Sejarah dan kiprah KH ahyad halimi
Bagian IV
Berjuang tanpa akhir
MENDIRIKAN PESANTREN
Pengajian Kuliah Subuh yang sampai sekarang tetap istiqomah dilaksanakan dan dilanjutkan adalah buah karya hasil ide dari KH. Ahyad halimi. Perkiraan pertama kali di mulai sejak tanggal 25 Januari 1956. Bertempat di surau kecil peninggalan datuknya -+ 150 tahun yang lalu, dengan pengajian kitab Kasyifat al Sajaa’ sesuai dengan saran K.H. Romly, Rejoso Jombang.
Merupakan sebuah langkah awal dari K.H Ahyat Halimy untuk mengabdikan hidupnya Melalui Ilmu yang telah beliau pelajari semasa di pesantren tebu ireng , jombang. Dan juga atas bimbingan serta arahan dari Guru besar beliau Hadrotus syaikh Hasyim Asy’ari. Berisi petuah " Mengabdikan diri dan hidupnya untuk ilmu agama ". Hal ini berarti seluruh aktifitas hidupnya adalah untuk mengajarkan dan mengamalkan ilmu agama. Beliau sepanjang hidupnya sangat konsisten / istiqomah dalam melaksanakan tugas dakwah ini.
Pada awalnya kuliah subuh ini hanya diikuti oleh satu orang saja yaitu Ruhan Zahidi, dari Kranggan. Beliau sangat istiqomah dalam mengikuti kuliah subuh ini meskipun hanya sendirian. Beliau menjadi enggan untuk tidak mengikuti kuliah subuh dan bertekad untuk istiqomah karena Salah satu peristiwa yaitu beliau pernah beberapa kali bangun kesiangan, ketika beliau sampai dan masuk ke Surau ternyata K.H. Ahyat Halimy sedang membaca kitab dengan suara keras, padahal beliau sen-dirian dan tidak ada orang yg mendengarkan. Maka sejak saat itu ia bertekad terus akan mengikuti kuliah subuh ini sampai akhir hayatnya. Janji ini ditepati oleh Sdr. Ruhan Zahidi dengan bukti bahwa beliau hanya absen sekitar satu minggu karena sakit hingga di panggil kehadirat Alloh Subhanu wata'ala.
Melihat kegiatan kuliah subuh ini ternyata sangat istiqomah setiap hari dilaksanakan, maka orang2 sekitar tertarik untuk mengikuti pengajian ini antara lain :beberapa jama’ah subuh seperti K.H. Aslan, P. H. Thohir, P. Zaini dll.
Sekitar tahun 1960, mulai lah ada perkembangan yaitu “santri” yang ingin menetap di Surau. Pada saat itu ada empat orang yang mulai menetap di surau ini, yaitu :
1. Rubakhin - Jatirejo
2. Abd. Munif - Porong
3. Ali Tamam dari - Jombang
4. Marwah Efendi - Nganjuk
2. Abd. Munif - Porong
3. Ali Tamam dari - Jombang
4. Marwah Efendi - Nganjuk
Dengan bermodalkan kegiatan Kuliah Subuh dan empat orang santri inilah akhirnya K.H. Ahyat Halimy bertekad untuk membangun Pondok Pesantren. Sebagai bukti cerita bahwa sebelum mendirikan pesantren beliau berziaroh atau riyadhoh ke makam para aulia’, serta bermunajat kepada Alloh SWT.
Sekitar tanggal 29 April 1964, K.H. Ahyat Halimy mulai membangun surau itu menjadi Pondok Pesantren. Beliau sangat yakin bahwa “do’a” dari Kanjeng Sunan Giri dalam mimpi beliau adalah sebuah sebuah isyaroh. Sunan giri berpesan : “ Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan ”, dawuh Kanjeng Sunan.
Mimpi alim ulama' adalah sebuah tanda, maka benar benar terbukti ketika batu pertama diletakkan, setelahnya tiba tiba datang orang tak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.
Selanjutnya dalam proses pembangunan Pondok Pesantren, ada dua orang yang sangat tekun dan giat dalam mengurusi pembangunan yaitu Bpk. Iskan Dimyati dan H. Aslan Halimi. Rencana awal pembangunan Pondok ini adalah membangun 7 buah kamar. Sementara itu empat orang santri pertama ditempatkan di Jl. Brawijaya 99, atau mentikan Gg. IV Nomor 43.
Akhirnya dalam waktu kurang dari setahun pembangunan Pondok Pesantren telah selesai untuk tahap pertama. Dengan rasa syukur kepada Alloh SWT, maka setelah selesai pondok tersebut beliau Ziaroh ke makam Sunan Giri.
K.H. Ahyat Halimy dalam sebuah catatan tulisan “ Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin ”. Beliau bercerita :
Ketika pesantren selesai dibangun, saya bertekad ziaroh ke makam mbah sunan giri. Saya naik sepeda motor melalui Surabaya tanpa mengindahkan lampu merah atau sempritan polisi atas pelanggaran lalu lintas. saya terus jalan hingga sampai di makam Sunan Giri dengan selamat. Di depan maqbaroh kanjeng sunan giri saya bersimpuh semua ini karena syauqi al jaziil kepada Kanjeng Sunan. Didalam makam Sunan Giri saya menangis kepada Alloh, bagaimana balasan hambanya yang dzo’if dan yang sangat durhaka ini di hadapan Malikul Jabbar dan atas do’anya Kanjeng Sunan dikabulkan oleh Alloh. Dan pada waktu itu terciumlah bau bauan yang sangat harum sekali, keluar dari Turbah makam Kanjeng Sunan.” Wallahu a'lam
Setelah Pondok selesai dibangun pada tahun itu juga mulai datang 15 orang santri, kebanyakan dari Perak Jombang dan terus berkembang. Setelah G.30 S. PKI, Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin semakin dikenal banyak orang. Tahun 1969 jumlah santrinya sudah mencapai 214 orang santri. Saudara Abd. Manaf diangkat sebagai lurah pondok periode pertama dan dibantu oleh Yahya Amari.
Tahun 1970, Presiden Suharto mengucurkan bantuan ke beberapa Pondok Pesantren di Jawa Timur, antara lain di jombang PP Darul Ulum, Peterongan PP Bahrul Ulum, Tambak Beras, dan Pondok Tebuireng.
Di Mojokerto, PP Sabilul Muttaqin yang diasuh oleh K.H. Ahyat Halimy juga mendapat bantuan sebesar Rp 5 juta. (sebagai perbandingan, waktu itu harga semen adalah Rp 300 per sag).
Oleh K.H. Ahyat Halimy bantuan ini dipergunakan untuk membangun Masjid. Sebagai pelaksana fisik bangunan di tunjuk H. Amin Hamdani dari Kalimati dan urusan administrasi serta pembukuan diserahkan kepada H. Siroj. Surau kecil yang bersejarah itu sekarang berubah masjid yang cukup megah berlantai II, dengan konstruksi bangunan yang masih cukup aman untuk dibangun menjadi 5 lantai.
Tahun 1982 masjid ini sudah tidak lagi mampu menampung jama’ah, sehingga K.H. Ahyat Halimy bermaksud untuk melakukan perluasan. Beliau kemudian memanggil H. Siroj untuk dimintai keterangan kemungkinan biaya yang dibutuhkan dan upaya penggalian dananya. Setelah di hitung-hitung, ternyata biayanya lebih murah membangun lagi dari bawah dari pada meneruskan bangunan masjid itu ke atas.
Seketika itu juga H. Siroj disuruh K.H. Ahyat Halimy untuk memanggil H. Aslan (Kakak kandung Abah yad ) untuk diajak musyawarah.
Seketika itu juga H. Siroj disuruh K.H. Ahyat Halimy untuk memanggil H. Aslan (Kakak kandung Abah yad ) untuk diajak musyawarah.
H. Aslan ternyata menyetujui tanah di halaman depan rumahnya (yang juga halaman masjid) untuk digunakan perluasan masjid. Perluasan ini menelan biaya Rp 80 juta, yang dananya merupakan swadaya masyarakat murni. H. Siroj ditunjuk sebagai pelaksana bangunan dan penggalian dananya.
Dalam mengelola Pondok Pesantren ini, K.H. Ahyat Halimy berpegang teguh pada tiga prinsip, yaitu :
1. Pangabdian pada Alloh SWT
2. Pengabdian pada Ilmu
3. Bertumpu pada kekuatan dan kemampuan sendiri
2. Pengabdian pada Ilmu
3. Bertumpu pada kekuatan dan kemampuan sendiri
Sedang tujuannya adalah untuk membentuk kader - kader Islam ahlussunnah wal jamaah yang bertaqwa kepada Alloh lahiriyah dan batiniyah, dengan melanjutkan perilaku dan pola pikir para salafu al sholihin.
Dalam mewujudkan tujuan dan prinsip-prinsip tersebut, K.H. Ahyat Halimy senantiasa menekankan kepada setiap santri untuk :
A. Melaksanaan sholat jamaah 5 waktu, baik didalam maupun di luar pondok
B. Senantiasa percaya diri dengan tawakkal kepada Alloh SWT. “Jangan menggantungkan nasibmu kecuali kepada Alloh SWT”.
C. Belajar dan atau mengajar dengan kitab-kitab yang shoheh serta selama hidupnya senantiasa mengajak orang lain ke jalan Alloh kapanpun dan dimanapun dia berada.
D. Senantiasa berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain
E. Mendidik, melatih dan meyakinkan kepada santri beliau untuk menguasai “life skill”, khususnya pertanian dan teknik/pertukangan.
C. Belajar dan atau mengajar dengan kitab-kitab yang shoheh serta selama hidupnya senantiasa mengajak orang lain ke jalan Alloh kapanpun dan dimanapun dia berada.
D. Senantiasa berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain
E. Mendidik, melatih dan meyakinkan kepada santri beliau untuk menguasai “life skill”, khususnya pertanian dan teknik/pertukangan.
Kesemuanya itu harus dilakukan dengan dasar Iman kepada Alloh dan Rosulnya, Tashdiq, ikhlas, yaqin, sabar dan syukur serta tawakkal kepada Alloh.
Dalam hal menekankan keinginan K.H. Ahyat Halimy agar pondok dan santrinya dapat bersikap mandiri. Beliau selalu mengajar santrinya untuk membuat atau memperbaiki sarana pondok oleh santri-santri itu sendiri.
Salah satu “hoby” K.H. Ahyat Halimy antara lain adalah “belanja” peralatan macam-macam di pasar Loak Jl. Niaga Mojokerto. Sehingga beliau mempunyai “koleksi” hampir semua peralatan pertukangan. Hoby ini biasa dilakukan pada sekitar jam 08.00 pagi setiap ada kesempatan. Bahkan sekitar tahun 1970-an, beliau mengajak santrinya untuk membuat sumur pompa di musholla - musholla yang airnya kurang baik. Tidak kurang dari 16 musholla yang berhasil dibangunkan pompa air oleh KH Ahyat dan santrinya. Bahkan untuk keperluan pondok sendiri, beliau ingin membuat sumur bor, untuk mengambil air bawah tanah, sehingga tidak memerlukan pompa air dan kebutuhan air di pondok tercukupi. Sayang usaha ini tidak belum berhasil. ( Wallahu a'lam )
PEDULI ANAK YATIM DAN DHUAFA'
Tahun 1958, bersamaan dengan berakhirnya proses pencarian jati diri. K.H. Ahyat Halimy mengulurkan tangan dan memberikan perhatian kepada anak yatim dan kaum dzu’afa. Bersama dengan pak mustakim dari Sinoman beliau mengadakan khitanan massal, yang ini di peruntukkan khusus bagi anak-anak yatim dan keluarga fakir miskin ( dalam perkembanganya siapapun boleh daftar karena mencari barokah pondok maupun barokah dr beliau ).
Kegiatan khitanan massal pertama kali diselenggarakan di Sinoman dan diikuti oleh 14 anak. Kegiatan ini terus berlanjut sampai sekarang. Setiap tahun kurang lebih diikuti oleh sekitar 100 anak. Mereka yang dikhitan selain gratis juga mendapat sepotong baju, sarung, songkok, sandal dan uang saku serta pengobatan gratis sampai yang dikhitan betul-betul sembuh.
Setelah K.H. Ahyat Halkimy wafat, pada tahun 1991, peserta khitan ternyata bukan saja keluarga miskin atau yatim piatu, tetapi beberapa anak juga berasal dari keluarga yang mampu. Mereka mengikut sertakan putranya pada khitanan massal di PP Sabilul Muttaqin, dengan harapan akan mendapat “berkah” dari keikhlasan almaghfurlah K.H. Ahyat Halimy. Oleh Panitia Khitan mereka diperlakukan sama seperti anak yatim dan keluarga miskin lainnya, baik dalam pelayanan maupun pemberian fasilitas lainnya. Hanya saja kebanyakan keluarga mampu ini juga memberikan bantuan kepada panitia khitanan.
Berangkat dari kegiatan khitanan massal ini pula, akhirnya K.H. Ahyat Halimy, dibantu secara penuh oleh P. Supaji Effendi, H. A. Marzuki dan Abd. Halim Hasyim akhirnya mendirikan Yayasan Panti Asuhan Yatim Piatu dan Dzu’afa “ AL IKHLAS ”.
Meskipun K.H. Ahyat Halimy, mempunyai hubungan yang cukup baik dengan Pemerintah khususnya Bupati dan walikota, namun karena prinsip hidupnya yang selalu menekankan kemandirian beliau lebih memilih untuk menggerakkan Muslimat NU, berupa gerakan “jumputan beras”. Sikap hidup mandiri bertumpu pada kekuatan sendiri ini, tidak menutup bantuan dari manapun, termasuk dari Pemerintah, selama bantuan itu diberikan secara ihlas dan sukarela dan tidak diikuti dengan macam-macam ikatan dan persyaratan.
Akhirnya berhasil didirikan Asrama atau Panti Asuhan Yatim Piatu dan Dzu’afa, dengan daya tampung maksimal 60 anak. Panti asuhan ini berada di Jl. Brawijaya 76 Mojokerto. Selain membiayai kebutuhan sehari hari anak - anak yang bermukim, yayasan ini juga menangani sekitar 200 anak yatim dan keluarga miskin dalam bentuk “home care”. Dalam artian anak-anak itu masih menetap dengan keluarganya yang masih ada tetapi untuk seluruh kebutuhan sekolah di tanggung oleh Yayasan panti asuhan Al IKHLAS ( YPAY ).
Wallahu a'lam
Bersambung ke bagian V ( mendirikan lembaga pendidikan )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar