Selasa, 26 Maret 2019

The Miracle Of KH.Ahyat Halimy

Sejarah dan kiprah KH ahyad halimi
Bagian IV
Berjuang tanpa akhir
MENDIRIKAN PESANTREN
Pengajian Kuliah Subuh yang sampai sekarang tetap istiqomah dilaksanakan dan dilanjutkan adalah buah karya hasil ide dari KH. Ahyad halimi. Perkiraan pertama kali di mulai sejak tanggal 25 Januari 1956. Bertempat di surau kecil peninggalan datuknya -+ 150 tahun yang lalu, dengan pengajian kitab Kasyifat al Sajaa’ sesuai dengan saran K.H. Romly, Rejoso Jombang.
Merupakan sebuah langkah awal dari K.H Ahyat Halimy untuk mengabdikan hidupnya Melalui Ilmu yang telah beliau pelajari semasa di pesantren tebu ireng , jombang. Dan juga atas bimbingan serta arahan dari Guru besar beliau Hadrotus syaikh Hasyim Asy’ari. Berisi petuah " Mengabdikan diri dan hidupnya untuk ilmu agama ". Hal ini berarti seluruh aktifitas hidupnya adalah untuk mengajarkan dan mengamalkan ilmu agama. Beliau sepanjang hidupnya sangat konsisten / istiqomah dalam melaksanakan tugas dakwah ini.
Pada awalnya kuliah subuh ini hanya diikuti oleh satu orang saja yaitu Ruhan Zahidi, dari Kranggan. Beliau sangat istiqomah dalam mengikuti kuliah subuh ini meskipun hanya sendirian. Beliau menjadi enggan untuk tidak mengikuti kuliah subuh dan bertekad untuk istiqomah karena Salah satu peristiwa yaitu beliau pernah beberapa kali bangun kesiangan, ketika beliau sampai dan masuk ke Surau ternyata K.H. Ahyat Halimy sedang membaca kitab dengan suara keras, padahal beliau sen-dirian dan tidak ada orang yg mendengarkan. Maka sejak saat itu ia bertekad terus akan mengikuti kuliah subuh ini sampai akhir hayatnya. Janji ini ditepati oleh Sdr. Ruhan Zahidi dengan bukti bahwa beliau hanya absen sekitar satu minggu karena sakit hingga di panggil kehadirat Alloh Subhanu wata'ala.
Melihat kegiatan kuliah subuh ini ternyata sangat istiqomah setiap hari dilaksanakan, maka orang2 sekitar tertarik untuk mengikuti pengajian ini antara lain :beberapa jama’ah subuh seperti K.H. Aslan, P. H. Thohir, P. Zaini dll.
Sekitar tahun 1960, mulai lah ada perkembangan yaitu “santri” yang ingin menetap di Surau. Pada saat itu ada empat orang yang mulai menetap di surau ini, yaitu :
1. Rubakhin - Jatirejo
2. Abd. Munif - Porong
3. Ali Tamam dari - Jombang
4. Marwah Efendi - Nganjuk
Dengan bermodalkan kegiatan Kuliah Subuh dan empat orang santri inilah akhirnya K.H. Ahyat Halimy bertekad untuk membangun Pondok Pesantren. Sebagai bukti cerita bahwa sebelum mendirikan pesantren beliau berziaroh atau riyadhoh ke makam para aulia’, serta bermunajat kepada Alloh SWT.
Sekitar tanggal 29 April 1964, K.H. Ahyat Halimy mulai membangun surau itu menjadi Pondok Pesantren. Beliau sangat yakin bahwa “do’a” dari Kanjeng Sunan Giri dalam mimpi beliau adalah sebuah sebuah isyaroh. Sunan giri berpesan : “ Kowe tak dungakno iso mbangun bangunan ”, dawuh Kanjeng Sunan.
Mimpi alim ulama' adalah sebuah tanda, maka benar benar terbukti ketika batu pertama diletakkan, setelahnya tiba tiba datang orang tak dikenal memberikan bantuan berupa 23.000 batu bata merah.
Selanjutnya dalam proses pembangunan Pondok Pesantren, ada dua orang yang sangat tekun dan giat dalam mengurusi pembangunan yaitu Bpk. Iskan Dimyati dan H. Aslan Halimi. Rencana awal pembangunan Pondok ini adalah membangun 7 buah kamar. Sementara itu empat orang santri pertama ditempatkan di Jl. Brawijaya 99, atau mentikan Gg. IV Nomor 43.
Akhirnya dalam waktu kurang dari setahun pembangunan Pondok Pesantren telah selesai untuk tahap pertama. Dengan rasa syukur kepada Alloh SWT, maka setelah selesai pondok tersebut beliau Ziaroh ke makam Sunan Giri.
K.H. Ahyat Halimy dalam sebuah catatan tulisan “ Sejarah Pondok Sabilul Muttaqin ”. Beliau bercerita :
Ketika pesantren selesai dibangun, saya bertekad ziaroh ke makam mbah sunan giri. Saya naik sepeda motor melalui Surabaya tanpa mengindahkan lampu merah atau sempritan polisi atas pelanggaran lalu lintas. saya terus jalan hingga sampai di makam Sunan Giri dengan selamat. Di depan maqbaroh kanjeng sunan giri saya bersimpuh semua ini karena syauqi al jaziil kepada Kanjeng Sunan. Didalam makam Sunan Giri saya menangis kepada Alloh, bagaimana balasan hambanya yang dzo’if dan yang sangat durhaka ini di hadapan Malikul Jabbar dan atas do’anya Kanjeng Sunan dikabulkan oleh Alloh. Dan pada waktu itu terciumlah bau bauan yang sangat harum sekali, keluar dari Turbah makam Kanjeng Sunan.” Wallahu a'lam
Setelah Pondok selesai dibangun pada tahun itu juga mulai datang 15 orang santri, kebanyakan dari Perak Jombang dan terus berkembang. Setelah G.30 S. PKI, Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin semakin dikenal banyak orang. Tahun 1969 jumlah santrinya sudah mencapai 214 orang santri. Saudara Abd. Manaf diangkat sebagai lurah pondok periode pertama dan dibantu oleh Yahya Amari.
Tahun 1970, Presiden Suharto mengucurkan bantuan ke beberapa Pondok Pesantren di Jawa Timur, antara lain di jombang PP Darul Ulum, Peterongan PP Bahrul Ulum, Tambak Beras, dan Pondok Tebuireng.
Di Mojokerto, PP Sabilul Muttaqin yang diasuh oleh K.H. Ahyat Halimy juga mendapat bantuan sebesar Rp 5 juta. (sebagai perbandingan, waktu itu harga semen adalah Rp 300 per sag).
Oleh K.H. Ahyat Halimy bantuan ini dipergunakan untuk membangun Masjid. Sebagai pelaksana fisik bangunan di tunjuk H. Amin Hamdani dari Kalimati dan urusan administrasi serta pembukuan diserahkan kepada H. Siroj. Surau kecil yang bersejarah itu sekarang berubah masjid yang cukup megah berlantai II, dengan konstruksi bangunan yang masih cukup aman untuk dibangun menjadi 5 lantai.
Tahun 1982 masjid ini sudah tidak lagi mampu menampung jama’ah, sehingga K.H. Ahyat Halimy bermaksud untuk melakukan perluasan. Beliau kemudian memanggil H. Siroj untuk dimintai keterangan kemungkinan biaya yang dibutuhkan dan upaya penggalian dananya. Setelah di hitung-hitung, ternyata biayanya lebih murah membangun lagi dari bawah dari pada meneruskan bangunan masjid itu ke atas.
Seketika itu juga H. Siroj disuruh K.H. Ahyat Halimy untuk memanggil H. Aslan (Kakak kandung Abah yad ) untuk diajak musyawarah.
H. Aslan ternyata menyetujui tanah di halaman depan rumahnya (yang juga halaman masjid) untuk digunakan perluasan masjid. Perluasan ini menelan biaya Rp 80 juta, yang dananya merupakan swadaya masyarakat murni. H. Siroj ditunjuk sebagai pelaksana bangunan dan penggalian dananya.
Dalam mengelola Pondok Pesantren ini, K.H. Ahyat Halimy berpegang teguh pada tiga prinsip, yaitu :
1. Pangabdian pada Alloh SWT
2. Pengabdian pada Ilmu
3. Bertumpu pada kekuatan dan kemampuan sendiri
Sedang tujuannya adalah untuk membentuk kader - kader Islam ahlussunnah wal jamaah yang bertaqwa kepada Alloh lahiriyah dan batiniyah, dengan melanjutkan perilaku dan pola pikir para salafu al sholihin.
Dalam mewujudkan tujuan dan prinsip-prinsip tersebut, K.H. Ahyat Halimy senantiasa menekankan kepada setiap santri untuk :
A. Melaksanaan sholat jamaah 5 waktu, baik didalam maupun di luar pondok
B. Senantiasa percaya diri dengan tawakkal kepada Alloh SWT. “Jangan menggantungkan nasibmu kecuali kepada Alloh SWT”.
C. Belajar dan atau mengajar dengan kitab-kitab yang shoheh serta selama hidupnya senantiasa mengajak orang lain ke jalan Alloh kapanpun dan dimanapun dia berada.
D. Senantiasa berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain
E. Mendidik, melatih dan meyakinkan kepada santri beliau untuk menguasai “life skill”, khususnya pertanian dan teknik/pertukangan.
Kesemuanya itu harus dilakukan dengan dasar Iman kepada Alloh dan Rosulnya, Tashdiq, ikhlas, yaqin, sabar dan syukur serta tawakkal kepada Alloh.
Dalam hal menekankan keinginan K.H. Ahyat Halimy agar pondok dan santrinya dapat bersikap mandiri. Beliau selalu mengajar santrinya untuk membuat atau memperbaiki sarana pondok oleh santri-santri itu sendiri.
Salah satu “hoby” K.H. Ahyat Halimy antara lain adalah “belanja” peralatan macam-macam di pasar Loak Jl. Niaga Mojokerto. Sehingga beliau mempunyai “koleksi” hampir semua peralatan pertukangan. Hoby ini biasa dilakukan pada sekitar jam 08.00 pagi setiap ada kesempatan. Bahkan sekitar tahun 1970-an, beliau mengajak santrinya untuk membuat sumur pompa di musholla - musholla yang airnya kurang baik. Tidak kurang dari 16 musholla yang berhasil dibangunkan pompa air oleh KH Ahyat dan santrinya. Bahkan untuk keperluan pondok sendiri, beliau ingin membuat sumur bor, untuk mengambil air bawah tanah, sehingga tidak memerlukan pompa air dan kebutuhan air di pondok tercukupi. Sayang usaha ini tidak belum berhasil. ( Wallahu a'lam )
PEDULI ANAK YATIM DAN DHUAFA'
Tahun 1958, bersamaan dengan berakhirnya proses pencarian jati diri. K.H. Ahyat Halimy mengulurkan tangan dan memberikan perhatian kepada anak yatim dan kaum dzu’afa. Bersama dengan pak mustakim dari Sinoman beliau mengadakan khitanan massal, yang ini di peruntukkan khusus bagi anak-anak yatim dan keluarga fakir miskin ( dalam perkembanganya siapapun boleh daftar karena mencari barokah pondok maupun barokah dr beliau ).
Kegiatan khitanan massal pertama kali diselenggarakan di Sinoman dan diikuti oleh 14 anak. Kegiatan ini terus berlanjut sampai sekarang. Setiap tahun kurang lebih diikuti oleh sekitar 100 anak. Mereka yang dikhitan selain gratis juga mendapat sepotong baju, sarung, songkok, sandal dan uang saku serta pengobatan gratis sampai yang dikhitan betul-betul sembuh.
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan teks
Setelah K.H. Ahyat Halkimy wafat, pada tahun 1991, peserta khitan ternyata bukan saja keluarga miskin atau yatim piatu, tetapi beberapa anak juga berasal dari keluarga yang mampu. Mereka mengikut sertakan putranya pada khitanan massal di PP Sabilul Muttaqin, dengan harapan akan mendapat “berkah” dari keikhlasan almaghfurlah K.H. Ahyat Halimy. Oleh Panitia Khitan mereka diperlakukan sama seperti anak yatim dan keluarga miskin lainnya, baik dalam pelayanan maupun pemberian fasilitas lainnya. Hanya saja kebanyakan keluarga mampu ini juga memberikan bantuan kepada panitia khitanan.
Berangkat dari kegiatan khitanan massal ini pula, akhirnya K.H. Ahyat Halimy, dibantu secara penuh oleh P. Supaji Effendi, H. A. Marzuki dan Abd. Halim Hasyim akhirnya mendirikan Yayasan Panti Asuhan Yatim Piatu dan Dzu’afa “ AL IKHLAS ”.
Meskipun K.H. Ahyat Halimy, mempunyai hubungan yang cukup baik dengan Pemerintah khususnya Bupati dan walikota, namun karena prinsip hidupnya yang selalu menekankan kemandirian beliau lebih memilih untuk menggerakkan Muslimat NU, berupa gerakan “jumputan beras”. Sikap hidup mandiri bertumpu pada kekuatan sendiri ini, tidak menutup bantuan dari manapun, termasuk dari Pemerintah, selama bantuan itu diberikan secara ihlas dan sukarela dan tidak diikuti dengan macam-macam ikatan dan persyaratan.
Akhirnya berhasil didirikan Asrama atau Panti Asuhan Yatim Piatu dan Dzu’afa, dengan daya tampung maksimal 60 anak. Panti asuhan ini berada di Jl. Brawijaya 76 Mojokerto. Selain membiayai kebutuhan sehari hari anak - anak yang bermukim, yayasan ini juga menangani sekitar 200 anak yatim dan keluarga miskin dalam bentuk “home care”. Dalam artian anak-anak itu masih menetap dengan keluarganya yang masih ada tetapi untuk seluruh kebutuhan sekolah di tanggung oleh Yayasan panti asuhan Al IKHLAS ( YPAY ).
Wallahu a'lam
Bersambung ke bagian V ( mendirikan lembaga pendidikan )

The Miracle Of KH.Ahyat Halimy

Sejarah dan kiprah KH AHYAD HALIMI
bagian III
Berjuang tanpa akhir
PERTEMPURAN DI PACET
Sebagai Komandan Kompi IV yang mempunyai tugas khusus mengawal Laskar Sabilillah yang terdiri dari para Ulama’ dan Tokoh-tokoh NU, K.H. Ahyat Halimy lebih banyak melakukan tugas koordinasi, dan untuk itu tidak jarang K.H. Ahyat Halimy masuk ke daerah pertempuran untuk menyampaikan pesan dan perintah dari Markas besar Hisbullah dan Sabilillah. Bahkan ketika terjadi penyergapan atas tentara BKR oleh sekutu di Pacet Mojokerto, K.H. Ahyat Halimy terlibat dalam pertempuran yang sengit.
Dalam pertempuran yang menelan banyak korban ini, salah satu diantaranya adalah Achmat Yatim. Beliau tertembak dalam pertempuran di Pacet, tetapi berhasil diselamatkan oleh rekan-rekannya, ketika sampai di Kutorejo, nyawanya tidak dapat diselamatkan lagi.
Pertempuran di Pacet ini merupakan pertempuran terbesar selama perang gerilya. Ketika tentara sekutu sudah menguasai Sepanjang dan Porong, hampir semua batalyon BKR berkumpul di Pacet. Mereka merencanakan menggiring pasukan Sekutu ke Mojosari dan Kutorejo. Di Kutorejo Sekutu akan diserang secara bersamaan oleh BKR dari arah Pacet, Dlanggu bangsal dan trawas. Tetapi rupanya konsentrasi pasukan BKR di Pacet ini tercium terlebih dahulu oleh pasukan Sekutu, dan mereka mulai menyerbu pasukan BKR, bukan dari arah Mojosari, tapi dari arah Trawas. Serangan mendadak ini membuat pasukan BKR tidak bisa memberikan perlawanan maksimal. Mereka bahkan tercerai berai dan mundur ke Wonosalam melalui Jatirejo.
Korban di pihak BKR mencapai ratusan orang.
Pasukan Hisbullah dan Sabilillah yang tercerai berai bersepakat untuk melakukan konsolidasi di Perak Jombang. Untuk konsolidasi inilah peran penting K.H. Ahyat Halimy sangat besar, yaitu selama satu bulan lebih beliau malang melintang ke Jombang, Somobito, Peterongan, Wonosalam dan Mojokerto untuk menggalang kembali kekuatan Hisbullah dan Sabilillah.
Setiap kota yang sudah di duduki oleh Sekutu selalu diikuti oleh pembentukan pemerintahan dengan mengangkat Bupati dari mantan pejabat atau Pegawai Pemerintah Hindia Belanda, maka semakin jelaslah bahwa Belanda memang berkeinginan untuk merebut kembali kekuasaannya di Indonesia. Mereka juga segera menggunakan politik Devide et Impera, atau politik memecah belah bangsa Indonesia dengan mendirikan negara-negara kecil.

Setelah hampir semua Kota di Jawa Timur berhasil dikuasai, Belanda mendirikan NDT (Negara Jawa Timur). Dengan demikian maka Jawa Timur dikuasai oleh dua Pemerintahan, yaitu Propinsi Jawa Timur yang dipimpin oleh Gubernur RI di Surabaya dan Negara Jawa Timur yang dipimpin oleh Wali Negara Djawa Timoer. Menyikapi hal ini sekali lagi K.H. Ahyat Halimy mendapat tugas khusus untuk menghubungi dan mengundang para Ulama untuk berkumpul di Trowulan bersama tokoh-tokoh Republiken.
Pertemuan di Trowulan ini diselenggarakan pada bulan Desember 1949, selain dihadiri oleh Wakil-wakil Badan Sosial, Masyumi, GPII, Alim Ulama, juga dihadiri oleh lurah-lurah se kecamatan Trowulan dan lurah dari desa-desa sekitar Trowulan. Hasil pertemuan pada intinya Menolak serta tidak mengakui berdirinya Negara Djawa Timoer (NDT), karena mereka hanya menguasai sebagian wilayah Kota saja dan sama sekali tidak menguasai wilayah pedalaman.
MEMBENTUK STII - 1951
Untuk mengakhiri perang gerilya yang berkepanjangan, maka akhirnya dicapai kompromi di tingkat Nasional melalui konferensi Meja Bundar untuk membentuk Negara Republik Indonesia Serikat pada tahun 1950, dimana RI termasuk dalam bagian Negara Republik Indonesia Serikat yang dipimpin oleh Ir. Soekarno dan Bung Hatta.
Kompromi ini terpaksa harus diterima agar penderitaan Rakyat tidak berlarut-larut.
Salah satu langkah awal dari pemerintahan Republik Indonesia Serikat ini adalah pengamanan persedian kebutuhan bahan pokok, antara lain berupa beras. Pemerintah melakukan pembelian padi kepada rakyat secara besar-besaran. Dalam praktiknya, ternyata yang paling diuntungkan adalah para tengkulak, karena mereka memang memiliki modal yang cukup besar. Di Mojokerto, para tengkulak ini digerakkan oleh dua pabrik penggilingan padi yang cukup besar dan dikuasai oleh Cina, yaitu Pabrik Penggilingan Padi “Bintang” yang ada di Jl. Mojopahit dan di Sooko.
K.H. Ahyat Halimy melihat dengan nyata bahwa tata niaga pengadaan bahan pokok ini masih belum berpihak kepada petani kecil, oleh karenanya K.H. Ahyat Halimy dan H. Husain Abd. Ghani, kemudian memprakarsai didirikannya Sarikat Tani Islam Indonesia (STII) pada tahun 1951, yang secara nasional merupakan Organisasi yang berinduk pada Masyumi.
Dalam menjalankan STII ini, H. Husain Abd. Gani diserahi jabatan sebagai Ketua dan dibantu oleh kalangan pemuda dan pengusaha antara lain :
1. H. Mahfudz Barnawi
2. Thoyib Rusman
3. H. Karomain
4. Abd. Hamid
5. H. Abdullah Sumadi
6. H. Said Bangsal
Setelah STII terbentuk K.H. Ahyat Halimy berusaha melakukan pendekatan kepada Bupati Mojokerto, dan alhamdulillah berhasil mendapatkan Izin untuk melakukan pembelian Padi kepada petani secara langsung. Setelah Izin ini keluar, maka dengan memanfaatkan Organisasi GP Ansor dan NU, STII melakukan pembelian Padi secara langsung kepada petani dengan modal pertama dari H. Husain Abd. Ghani serta para pengusaha.
Hasilnya selain petani mendapatkan harga yang lebih tinggi dibanding harga dari tengkulak, STII juga mendapatkan premi dari pemerintah. Setelah premi ini terkumpul selain dipergunakan untuk biaya operasional, K.H. Ahyat Halimy mengarahkan penggunaan dana itu pembelian gedung, di Jl. Poerwotengah (Sekarang Jalan Taman Siswa). Tanah dan bangunan tersebut digunakan untuk keperluan ummat Islam, dan berstatus wakaf, serta diberi nama “Balai Muslimin”.
Dalam perkembangannya, Balai Muslimin ini pernah digunakan sebagai tempat SMI (Sekolah Menengah Islam), SD Muhammadiyah, Pusat Latihan Pencak Silat “Tapak Suci”, Basic Training GP Ansor, IPNU, IPPNU, PMII, Pertemuan-pertemuan NU dan Muhammadiyah. Perkembangan berikutnya, karena ada program ummat Islam yang di Prakarsai oleh Bupati Mojokerto, Bapak. D. Fatchoerrahman untuk mendirikan Rumah Sakit Islam dengan menggalang dana langsung dari masyarakat Islam belum dapat direalisir, maka kegiatan untuk mendirikan Rumah Sakit Islam ini berhenti hanya sampai dengan pengadaan tanah di Desa Japan Kecamatan Sooko.
Dengan demikian di Mojokerto ada dua asset ummat Islam, yaitu Balai Muslimin dan Tanah yang dipersiapkan untuk membangu Rumah Sakit Islam. Kedua asset tersebut sama tidak dapat difungsikan secara maksimal karena dua ormas islam terbesar di Mojokerto yaitu NU dan Muhammadiyah belum menemukan kesepakatan dalam mengfungsikan kedua asset tersebut.
Kemudian atas inisiatif dan permintaan Bapak D. Fathurrohman, pada tahun 1993 diadakanlah pertemuan antara tokoh NU dan Muhammadiyah di Aula Condromowo, Desa Pekukuhan, Mojosari. Pertemuan tersebut antara lain dihadiri oleh Bpk. Hamzah, suyono, fathurrohman, H. Siroj, H. Mahfudz Barnawi dan Masud Yunus.
Pada akhirnya musyawarah tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa : “ Balai Muslimin ” ditetapkan sebagai Badan Waqfiyah dan pengelolaannya diserahkan kepada Muhammadiyah, sedangkan tanah di desa Japan, Kecamatan Sooko diserahkan pada RSI Sakinah dan dikelola oleh NU, dengan harapan dapat dimanfaatkan bagi pengembangan RSI Sakinah.

Karena lokasi tanah terpisah dengan RSI Sakinah, maka dilakukan pengukuran dengan tanah milik NU yang berada disebelah selatan RSI Sakinah dengan luas yang sama agar dapat dipergunakan untuk pengembangan RSI Sakinah, dan untuk tanah Eks RSI sekarang sudah dibangun Kantor NU ( SEKARANG PCNU KABUPATEN DEPAN PONDOK AL AMIN ).
MELAWAN G.30.S PKI
Pemberontakan G.30.S PKI yang dimulai dengan pembunuhan secara biadab pada Jendral A. Yani dan 6 orang petinggi ABRI lainnya menimbulkan kemarahan yang luar biasa dari kebanyakan bangsa Indonesia. Tuntutan untuk membubarkan PKI oleh gerakan Mahasiswa di Jakarta belum menunjukkan hasilnya. Tuntutan itu kemudian menggema ke bawah, banyak Daerah mulai bereaksi dengan mengadakan demo untuk menuntut dibubarkannya PKI dan organisasi pendukungnya.
Di Mojokerto juga mulai ada inisiatif untuk mengadakan atau membentuk sebuah gerakan. Ormas-ormas Islam berkumpul di Masjid Al Fatah, berencana untuk menutup Kantor CC PKI dan ormas-ormasnya. Berita ini rupanya sangat cepat menyebar sehingga yang datang di Masjid Jami’ bukan hanya pimpinan ormas, akan tetapi juga kebanyakan dengan para anggotanya.
Hingga menjelang tengah malam seribu orang lebih telah berkumpul di Masjid jami'. Mereka sudah berniat untuk langsung bergerak dan menutup Kantor CC PKI, tetapi tidak ada satupun tokoh yang hadir berani memberi komando karena mereka belum tahu persis posisi Batalyon 516 yang bermarkas di utara alun - alun Mojokerto ( Sekarang Markas Korem ). Didepan Markas Batalyon 16, tidak seperti biasanya, saat itu dijaga oleh sekitar 20 orang dan bersenjata lengkap.
Rupanya ada beberapa pengurus NU Cabang Mojokerto yang menghubungi K.H. Ahyat Halimy, dan memberi laporan tentang keadaan di Masjid Jami’. Beliaupun segera berangkat dengan mengendarai sepeda motor BSA butut. Begitu memasuki Masjid K.H. Ahyat Halimy memberikan pidato sebentar untuk memberi pengarahan kepada seluruh yang hadir saat itu, isinya
“ Jangan ada pengerusakan. Ambil saja dokumen-dokumen penting, kemudian tutup dan segel Kantornya !, jangan juga ada yang mengambil barang untuk kepentingan pribadi, itu maling namanya. Mari kita berjuang iklhlas karena Alloh Ta’ala. Allohu Akbar !, Allohu Akbar !, Allohu Akbar !”
K.H. Ahyat Halimy sendiri tidak mengikuti rombongan tengah malam ini karena tugas beliau hanya untuk mengarahkan dan memberi pemahaman agar tidak anarkis, setelah memberi komando beliau mengambil motor dan pulang ke rumah. Diluar orang2 sudah siap dan mereka bergerombol berangkat lewat Jl. Mojopahit, kemudian masuk Jl. Kartini, menuju perempatan Prapanca menuju Kantor CC PKI sambil meneriakkan Takbir. Banyak diantara mereka yang membawa golok untuk berjaga jaga bila ada perlawanan.
Sesampainya di Kantor CC PKI tanpa ada satu perlawanan, mereka mendobrak pintu Kantor kemudian memeriksa dan mengambil beberapa dokumen2 penting. Setelah itu mereka keluar menutup kembali pintu kantor dan menyegelnya dengan kayu yang dipasang melintang. Kemudian dilanjutkan menuju ke Jl. Pemuda yaitu pusat kegiatan PKI di SMP udayana. Tanpa ada perintah tiba tiba beberapa orang mulai melempari Kantor CC PKI, sebagian lagi merangsek masuk mendobrak pintu yang baru disegel kemudian mengeluarkan peralatan kantor antara lain : lemari, Mesin Ketik, Telepon dan beberapa berkas yang masih tersisa. Lalu menumpuknya di Jl. Brawijaya kemudian membakarnya.
Massa mulai bergerak ke Jl. Pemuda dengan memekikkan takbir. Tidak ada satupun penduduk yang berani keluar, bahkan untuk sekedar membuka jendela. Malam semakin mencekam, Sesampai di jl. Pemuda dan memasuki halaman SMP Udayana, aksi serupa seperti di perempatan Prapanca terulang lagi, setelah beberapa dokumen diamankan, semua perabot didalam kantor dikeluarkan dan dibakar.
Kemudian massa bergerak ke Panggreman menuju ke sebuah rumah didekat lapangan sepakbola. Rumah ini biasa digunakan untuk latihan “Genjer-genjer”. Genjer-genjer ini sebenarnya adalah sebuah judul lagu yang biasa dinyanyikan oleh orang-orang PKI, tetapi kemudian berkembang menjadi sebutan untuk sebuah pentas sejenis Ludruk yang biasa dipergunakan oleh PKI media komunikasi dan provokasi.
Di Panggreman ini sempat terjadi ketegangan sebentar, karena ada sedikit perlawanan dari pihak orang2 PKI, akan tetapi begitu melihat rombongan massa yang sangat besar sebagian dari mereka lari kearah barat dan sebagian lagi masih berusaha memberikan perlawanan. Beberapa orang mengejar sebagian yang lari tetapi kehilangan jejak setelah sampai di Kali Cemporat. Karena massa sudah mulai panas dan masih ada sedikit perlawanan, massa pun menjadi semakin tidak terkendali. Mereka menyerbu masuk rumah serta mengobrak abrik Gamelan kemudian massa juga membakar rumah tersebut. Sampai matahari terbit masih ada sisa-sisa api yang membakar rumah itu, sementara sebagian massa sudah kembali ke rumahnya masing-masing.
Sekitar kurang lebih seratus orang pemuda tidak pulang, akan tetapi langsung ke Surau Jl. Miji 36, membersihkan diri lalu sebagian tidur dan sebagian yang lain menunggu adzan subuh tiba. Adzan subuh berkumandang semua pemuda mengambil air wudhu dan mengikuti jama'ah subuh. Usai sholat subuh, K.H. Ahyat Halimy mendapat laporan Kejadian tadi malam, beliau langsung duko ( marah-marah ), dan berkata " sudah saya peringatkan jangan ada perusakan, ini malah membakar rumah. Mana pimpinan Ansor ? bisa ndak mengendalikan anggotanya ?
Semuanya terdiam. Beruntung Kiyai Muhaimin sudah datang dan beliau masuk ke surau, bersiap siap memulai kuliah subuh.
K.H. Ahyat Halimy pun segera masuk ke surau dan ikut memberikan kuliah subuh.
Dokumen-dokumen yang berhasil diambil dari Kantor CC PKI itu setelah diteliti lebih lanjut, selain berisi daftar anggota dan pengurus PKI dan organisasi pendukungnya, juga ditemukan daftar nama tokoh-tokoh agama yang dianggap musuh PKI dan harus dilenyapkan. Dokumen yang terakhir yang berisi daftar nama tokoh agama ini sangat mengejutkan banyak pihak dan menjadi bahan pembicaraan yang paling sering di bicarakan sekaligus meningkatkan semangat warga untuk menumpas habis orang-orang PKI.
Beberapa hari setelah perusakan kantor CC PKI, warga kota Mojokerto dikagetkan oleh ditemukannya sesosok mayat di Jl. Mojopahit, tepatnya di sebelah utara jalan menuju pekuburan Kelurahan Suratan. Mayat itu tergeletak ditengah rel kereta api, dengan luka menganga di lehernya. Mayat itu dipastikan dibunuh ditempat lain kemudian dibuang disana. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya bekas jejak darah dari pergerakan kaki atau tangan dari mayat, dan darah yang tergenang di bawah luka leher.
Mayat tersebut ditemukan oleh warga sekitar jam 8 malam, dan baru tengah malam diangkut oleh pihak kepolisian pada tengah malam. Kejadian ini terindikasi adalah sebuah provokasi dari orang2 PKI, sebab setelah itu beredar kabar bahwa yang meninggal itu adalah tokoh PKI keturunan Cina asal Jombang. Setelah kejadian penemuan mayat itu, warga kota Mojokerto setiap malam menjadi sangat waspada sekaligus menjadikan kota bertambah mencekam.
Berita akan adanya pembalasan dari pihak PKI terus berkembang dari mulut ke mulut. Surau di Jl. Miji 36 kembali menjadi tempat berkumpulnya para pemuda, khususnya Pengurus GP Ansor. Selain untuk menjaga keamanan K.H. Ahyat Halimy, mereka juga saling bertukar informasi, menganalisis keadaan, juga merencanakan macam-macam kegiatan pengamanan dan perlawanan terhadap PKI.
K.H. Ahyat Halimy dalam setiap kesempatan selalu menekankan kepada pemuda-pemuda yang berkumpul di Surau Jl. Miji 36 untuk selalu waspada dan siaga serta melarang untuk bertindak sendirian. Surau Jl. Miji 36 ini sudah menjadi Pos Komando untuk kegiatan penumpasan G.30.S PKI. Selain kumpulan para pemuda juga ada 3 atau 4 orang dari pihak berwajib, baik itu TNI AD maupun Kepolisian.
Gerakan untuk menangkap gembong-gembong PKI, selalu dimulai dari “Pos Komando” ini. Mereka yang tertangkap kemudian dimasukkan ke penjara di Jl. Taman Siswa. Beberapa hari setelah gerakan penangkapan gembong-gembong PKI ini, muncul provokasi kedua yaitu adanya mayat yang terapung di sungai Brantas. Awalnya hanya dua atau tiga mayat yang terapung, dan tidak ada seorangpun yang berani untuk mengangkat dan memakamkan mayat-mayat tersebut. Masyarakat berkeyakinan bahwa mayat-mayat itu adalah tokoh PKI yang dieksekusi secara sepihak serta tidak melalui proses peradilan.
Beberapa minggu kemudian jumlah mayat yang terapung di sungai Brantas semakin banyak, biasanya mulai muncul di sungai Brantas pada sekitar jam tiga atau empat sore, dan kondisi mayat nya juga masih belum rusak. K.H. Ahyat Halimy tak henti-hentinya mengingatkan kepada pemuda-pemuda Ansor, untuk mengendalikan emosi serta tidak grusa grusu, dan selalu bekerja sama dengan pihak ABRI dalam melakukan gerakan penumpasan G. 30. S PKI.
K.H. Ahyat Halimy juga menangkap sinyal yang “kurang baik” melihat jumlah mayat yang terus muncul di sungai Brantas. K.H. Ahyat Halimy sangat khawatir terjadi salah sasaran atau dimanfaatkan oleh orang untuk melampiaskan dendam pribadi. Berkali-kali beliau mengingatkan pada pemuda ansor serta warga akan dosa yang akan dipikul apabila hal itu terjadi.
Berita yang tersiar dari mulut ke mulut, ternyata adalah adanya “kiriman” gembong PKI dari Surabaya, Sidoarjo dan Gresik untuk dieksekusi di Mojokerto. K.H. Ahyat Halimy adalah tokoh yang dikenal sangat tegas dalam menerapkan hukum Islam sekaligus ulama’ yang selalu dapat menerima kenyataan. Artinya apabila terjadi sesuatu yang kurang atau tidak sesuai dengan syari’at, kemudian sudah diusahakan sedapat mungkin untuk dihindari dan dicegah tetapi tidak bisa, maka K.H. Ahyat Halimy seringkali dapat menerima kenyataan itu dengan senantiasa mengajak dan memperbanyak istighfar.
Begitu pula halnya yang dilakukan dalam melihat kenyataan kegiatan penumpasan G.30.S PKI ini, beliau sangat setuju gerakan penumpasan G.30.S PKI, tetapi jelas nampak kurang berkenan dengan cara-cara yang dipakai dalam melakukan gerakan itu, yaitu dengan menyiksa atau membunuh secara sepihak tanpa terlebih dahulu bekerja sama dengan ABRI.
bersambung.. ( Selanjutnya Bagian IV : MENDIRIKAN PESANTREN )
Wallohu a'lam

The Miracle Of KH. Ahyat Halimy

Sejarah dan kiprah KH. Ahyad halimi
Bagian II
Berjuang tanpa akhir
MEMBENTUK HISBULLAH
Melihat realitas kepedihan rakyat di masa pendudukan Jepang, serta mulai dibukanya gerakan militer oleh tentara Jepang, maka atas prakarsa beberapa Ulama di Jawa Barat, dan pendekatan yang dilakukan oleh K.H. Wahid Hasyim, selaku Ketua Masyumi, penjajah Jepang mengizinkan diadakannya latihan militer di Jibarosa Bogor.
Setelah bermusyawarah dengan P. Mansur Sholikhi dan P. Munasir, disepakti GP Ansor Mojokerto mengirimkan 3 kadernya untuk mengikuti latihan di Jibarosa, mereka yang diutus itu adalah
1. Sdr. Suhud (Alm. K.H. Suhud, Kemlagi)
2. Sdr. Ahmad Yatim, yang gugur dalam pertempuran di Pacet
3. Sdr. Mulyadi
Selesai mengikuti latihan di Jibarosa, tiga kader GP Ansor tersebut diajak oleh K.H. Ahyat Halimy, untuk membentuk Pasukan Hisbullah di Mojokerto. Dari hasil pertemuan yang diawali dengan “rujakan” itu, terbentuk Pengurus Hizbullah, yang terdiri dari :
Ketua : Mansur Solikhi
Wakil Ketua : Munasir
Sekretaris : Samsoemadyan
Pembantu Umum : Ahyat Halimy
Anggota : Ahmad Khotib, Akhmad Efendi, Sholeh Yasin, Hudan, Muridan dan Mahfud.
Seluruh anggota GP Ansor digerakkan untuk masuk ke Laskar Hisbullah, sehingga dalam waktu tidak lebih dari satu bulan, Hisbullah Mojokerto berhasil membentuk 2 batalyon.
Batalyon pertama di pimpin oleh Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua di pimpin oleh Munasir.
K.H. Ahyat Halimy diangkat sebagai Komandan Kompi IV, di bawah Batalyon Munasir. Kompi IV ini mempunyai tugas khusus untuk mengawal para Ulama' yang tergabung dalam Laskar Sabilillah.
Seluruh persenjataan dan perlengkapan militer dari Laskar Hisbullah ini, diambil dari pasukan atau pegawai Hindia Belanda yang sudah ditundukkan oleh tentara Jepang, dan persenjataan2 tentara Jepang setelah mereka menyerah pada Sekutu.
PERANG GERILYA
Seperti malam2 sebelumnya pada waktu itu Ahyat muda, Munasir dan Samsoemadyan, sedang bercengkerama di Surau. Sambil menunggu kedatangan teman yang lain, mereka makan “tahu solet”. Tiba-tiba Mansur Solikhi datang dengan nafas yang terengah-engah, matanya berbinar. Setelah mengucap salam, Mansur segera berkata ; “ Saya baru saja mendengar Radio, tadi pagi Bung Karno dan Bung Hatta, memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Sekarang kita sudah punya Negara sendiri. Negara yang dipimpin dan dijalankan oleh bangsa kita sendiri. Allohu akbar ! Allohu Akbar ! .“ katanya berapi-api , Benarkah itu ?.” tanya Ahyat.
“Saya mendengarkan dua kali, yaitu siaran setelah maghrib, dan siaran setelah Isya’ “ kata Mansur Solikhi meyakinkan teman-temannya. Tanpa dikomando mereka berempat serentak mengumandangkan takbir, sambil berjingkrak-jingkrak. Kemudian Ahyat mengajak teman-temannya untuk sujud syukur di surau. Berita ini segera disebarkan ke masyarakat, khususnya teman-teman Ansor di Kota Mojokerto.
Keesokan harinya, entah atas perintah siapa, masyarakat berbondong-bondong ke alun-alun kota. Beberapa diantara mereka ada yang mengumandangkan Takbir dengan semangat. Tak lama kemudian sudah berkumpul sekitar +- 1000 orang, mereka rata-rata hanya berbisik-bisik memastikan kabar Proklamasi. Maklum, mereka sebenarnya agak takut, karena di sebelah utara dan selatan alun-alun mojokerto adalah Markas Kompetai ( kempeitai / kenpeitai nama satuan polisi militer jepang ), yang dijaga oleh tentara Jepang dengan senjata laras panjang.
Akan tetapi tidak seperti biasanya, meski ada kerumunan banyak orang, mereka tentara Jepang itu hanya berdiri mematung. Tak lama kemudian tampak ada seorang pemuda melambaikan tangan dari Markas Kompetai, sambil menenteng senjata. Beberapa orang pemuda yg lain berlarian masuk markas, kemudian keluar sambil membawa senjata. Rupanya mereka sedang melucuti senjata tentara2 Jepang.
Diantara para pemuda tersebut tampak Mansur Solikhi dari Hisbullah yang juga sudah membawa senjata laras panjang. Mansur kemudian menyuruh teman-teman Hisbullah untuk mengambil senjata, terutama karena tentara Jepang sama sekali tidak memberikan perlawanan apapun, mereka hanya menolak kalau senjata yang mereka bawa diambil.
Malam harinya, pengurus Hizbullah Mojokerto rapat di surau Jl. Miji 36. K.H. Ahyat Halimy mengusulkan agar semua senjata yang diambil oleh anggota Hisbullah, dikumpulkan di suatu tempat, dan hanya akan diambil dan dipergunakan pada situasi yang tepat, atas perintah Ketua Hisbullah. Usul ini disepakati, demi keselamatan para anggota Hizbullah sendiri serta menjaga kemungkinan penyalahgunaan senjata.
Hari-hari berikutnya merupakan “hari pesta” bagi rakyat Indonesia, termasuk masyarakat Mojokerto, setiap kali berpapasan dengan teman, dimanapun mereka berada selalu meneriakkan salam “Merdeka !”. Tapi kegembiraan ini juga sedikit terusik oleh adanya berita bahwa tentara Sekutu akan masuk dan menyerang Indonesia, sehingga masyarakat selain gembira tapi juga waspada dengan mulai bersiap-siap melakukan perlawanan pada Sekutu karena adanya berita tersebut.
Menyikapi situasi seperti ini K.H. Ahyat Halimy meminta kepada teman-teman Hizbullah untuk melakukan koordinasi dengan Bapak Husaini Tiway Ketua GP Ansor Surabaya, yang juga sudah membentuk dan menata Laskar Hizbullah di Surabaya. Mereka bahkan sudah membagi wilayah dan tugas untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya, termasuk Mojokerto, Gresik, Sidoarjo dan Pasuruan.
Berita itu benar dengan adanya bukti di akhir bulan September, beberapa orang yang mengaku sebagai perwakilan tentara sekutu mulai masuk Surabaya. Mereka kebanyakan adalah tentara Comenwealt Inggris ( Commonwealth atau Persemakmuran adalah perhimpunan 53 negara, kebanyakan bekas koloni Inggris, termasuk Australia, Kanada dan India. ) yang berada di Australia, dan beberapa orang Belanda yang berhasil melarikan diri ke Australia ketika Jepang masuk ke Indonesia.
Di Surabaya mereka menempati Hotel Orange di Jl. Tunjungan. Tiba-tiba saja pada tanggal 19 September 1945, mereka mengibarkan bendera Merah Putih Biru di puncak menara hotel. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari arek-arek Suroboyo. Mereka secara spontan berduyun-duyun ke Hotel Orange, dan diantara mereka kemudian ada yang mulai memanjat menara Hotel, kemudian merobek warna biru pada bendera yang berkibar, sehingga yang tersisa adalah warna bendera merah putih.
Tanggal 25 september 1945, tentara Sekutu benar-benar sudah mendarat di Jakarta, mereka terdiri dari tentara Inggris, Gurgha (orang India yang menjadi tentara Inggris), dan ikut pula tentara Belanda. Misi mereka yang sebenarnya adalah untuk melucuti senjata tentara Jepang dan menjadikan mereka sebagai tawanan perang, serta membebaskan tawanan Jepang, khususnya orang-orang Belanda, atau para Pegawai Pemerintah Kolonial Belanda yang ditawan Jepang.
Tetapi dibalik misi resmi itu, rupanya ada agenda khusus dari tentara Belanda, yaitu mengembalikan kekuasan Hindia Belanda. Agenda ini ternyata memang di dukung oleh Inggris, sehingga setiap tentara sekutu datang, kemudian melakukan perundingan dengan “Tentara Indonesia”, selalu berakhir dengan perang. Karena rupanya sekutu enggan mengakui kemerdekaan Indonesia.
Setelah Insiden 19 September, Tentara BKR (Badan Keamanan Rakyat), terutama Hizbullah, mulai mempersiapkan diri. Tanggal 20 Oktober tentara sekutu mulai merapat di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dipimpin oleh Jendral AWS Mallaby. Awalnya Arek Suroboyo menolak masuknya tentara Sekutu ini, tetapi setelah dilakukan perundingan, mereka mene-rima dengan beberapa syarat. Tanggal 26 Oktober tentara sekutu mulai mendarat secara besar-besaran, dengan dilengkapi senjata berat. Tentara Belanda dan Gurgha, masuk terlalu jauh ke daratan Surabaya, sehingga menyalahi perjanjian awal yang sudah disepakti dengan Jendral AWS Malaby.
Untuk menyelesaikan masalah ini diadakan perundingan kembali di Hotel Internatio, tetapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba muncul kegaduhan, dan seorang tentara sekutu melepaskan tembakan ke arah keruman massa di depan Hotel Internatio. Kegaduhan itu dicoba untuk dilerai, ketika keadaan sudah mulai mereda tiba-tiba muncul suara tembakan, entah dari mana, maka baku tembak-pun mulai terjadi. Entah yang benar mana, insiden Hotel Internatio, menurut sebgaian sumber telah menewas-kan Jendral AWS Mallaby. Sebagian menceritakan bahwa Jendral Malaby tidak tewas, tetapi diculik arek-arek Suroboyo. Yang jelas sejak insiden tersebut Jendral AWS Malaby tak diketahui keberadaannya.
Pertempuran besar sudah diambang pintu, karena perundingan mengalami jalan buntu. Laskar Rakyat sudah mulai bersiap menghadang pendaratan sekutu, perlawanan sudah mulai diteriakkan.
Dari Mojokerto sendiri sudah ada satu kompi laskar rakyat yang berangkat ke Surabaya. Dari Tebuireng, K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa yang berisi tentang revolusi jihad berupa :
Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, wajib dipertahankan ;
Republik Indonesia adalah satu-satunya pemerintahan yang sah diseluruh bekas wilayah Hindia Belanda, wajib dibela dan dipertahankan, meskipun meminta pengorbanan harta dan nyawa ;
Musuh Indonesia terutama adalah Belanda yang membonceng tugas-tugas sekutu yang diwakili Inggris ;
Ummat Islam, terutama warga Nahdlatul Ulama wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawan yang hendak kembali menjajah Indonesia. Melawan Penjajah adalah Jihad fi Sabilillah, membela agama Alloh, karena itu bersifat perseorangan atau fardlu ‘ain.
Tanggal 10 Nopember 1945, sekutu memaksa untuk mendaratkan pasukannya, maka pertempuran pun tak terhindarkan. Seluruh Pasukan Hisbullah, dan laskar-laskar rakyat yang ada di Mojokerto berangkat ke Surabaya, menghadang masuknya kembali penjajah Belanda. Dengan berbekal senjata seadanya, dan kendaraan seadanya mereka berbondong-bondong ke Surabaya, memasuki kancah peperangan dengan modal tekat Jihad fi Sabilillah.
Gambar mungkin berisi: 1 orang, teks
Sementara itu penduduk Surabaya yang sudah manula, atau masih balita dan kaum Ibu, diungsikan keluar dari Surabaya, menuju daerah sekitar di Mojokerto, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Lamongan dan Jombang. Surabaya telah menjadi medan pertempuran. Meskipun laskar rakyat kalah dalam persenjataan, namun tidak mudah bagi Sekutu untuk menguasai Surabaya, karena selain memberikan perlawanan langsung dengan senjata seadanya, arek-arek Suroboyo juga melaksana-kan “gerilya” kota. Laskar Rakyat yang tidak memiliki senjata api, mulai keluar kota, mereka bertahan di Sepanjang, Waru, Porong dan Gresik.
Karena Sekutu sudah mulai menguasai wilayah perkotaan, maka daerah-daerah pinggiran mulai dihujani mortir, dan serangan udara. Mojokerto akhirnya mulai digunakan sebagai Pos Komando Laskar Hisbulloh. Markas Kompetai di selatan alun-alun, dijadikan Markas Hisbulloh, sedang Pos Kompetai yang berada di Timur Alun-alun digunakan sebagai Markas Sabilillah.
Dalam sebuah serangan di Sepanjang, tepatnya di desa Klopo Sepuluh, K.H. Nawawi dari Laskar Sabilillah gugur sebagai syuhada’. Jenazahnya Beliau di bawa ke Mojokerto dan dimakamkan di Pemakaman Losari. Gugur nya K.H. Nawawi ini bukan menyurutkan nyali para pejuang, melainkan menambah kebencian dan sangat untuk bertempur melawan Belanda dan menyulut semangat jihad para pejuang kemerdekaan pada saat itu.
Bersambung..
Wallahu a'lam

The Miracle of kh. Ahyat Halimy

Sejarah dan kiprah masa remaja KH. Ahyad halimi
Bagian I
Bersumber dari H. Sugeng munir :
" Sebagai santri beliau, PENTING kita membaca sepenggal sejarah almagfurlah "
BERJUANG TANPA AKHIR
Mendirikan GP Ansor
K.H. Ahyat Halimy ketika baru pulang dari belajar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, usianya masih sangat muda, yaitu 20 tahun, tetapi karena perangainya yang sangat santun, dan hormat pada Ulama’, maka beliau sudah dipercaya untuk menjabat Sekretaris Tanfidziyah NU yang diketuai oleh K.H. Dimyati dari Kauman, dan Rois Syuriyah-nya K.H. Zainal Alim dari Suronatan.
Ditengah-tengah kesibukannya sebagai sekretaris Tanfidziyah NU, K.H Ahyat Halimy beserta teman-temannya, pada tahun 1938 mendirikan Ansoru Nah-dlatul Ulama (ANO) atau GP Ansor. Motor dari gerakan ini adalah Pak Munasir dari Mojosari, P. Soleh Rusman dari Kradenan, beserta dua belas pemuda lainnya. Fungsi utama ANO waktu itu adalah membantu seluruh kegiatan dan program Nahdlatul Ulama.
Tahun 1940 s/d 1942, selain masih menjabat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU, K.H. Ahyat Halimy juga dipercaya menjabat Ketua GP Ansor. Pada masa kepe-mimpinan Beliau, K.H Ahyat Halimy membentuk tenaga penggerak di setiap Kawedanan, sebagai berikut :
1. Kawedanan Mojosari, diserahkan pada P. Munasir, P. Munadi dan P. Mustaqim.
2. Kawedanan Mojokasri diserahkan pada P. Mansur Solikhi dan Sdr. Imam Muhtadi.
3. Kawedanan Jabung diserahkan pada P. Shofwan dan P. Abd. Hamid.
4. Kawedanan Mojokerto, diserahkan pada K.H. Ahyat Halimy sendiri, K.H. Samsoemadyan, P. H. Bilal, dan P. H. Rifa’i.
Pada periode ini, kegiatan G.P. Ansor tidak hanya sekedar membantu kegiatan dan program NU, tetapi sudah memiliki kegiatan kepemudaan yang lain, seperti baris berbaris, kepanduan, bela diri dan lain-lain.
Disamping itu, hampir setiap malam mereka selalu berkumpul di Surau Jl. Miji 36 untuk sekedar ngomong-ngomong dan berdiskusi tentang berbagai hal. Mereka bahkan sudah memiliki satu pasukan berseragam, terompet sangkakala, dan beberapa perangkat kegiatan “kepanduan” ( seperti Pramuka jaman sekarang).
Tahun 1943, ketika tentara Jepang mulai memasuki Mojokerto, dan terjadi penjarahan besar-besaran ter-hadap semua toko dan gudang bahan makanan dan barang penting lain yang dikuasai Cina dan Belanda, aktivitas GP Ansor sempat terhenti, meskipun sebenar-nya mereka semua masih sangat kompak, bersatu padu dalam satu tekad “ Li I’laai kalimatillah “.
Penjarahan itu ternyata memang diperintahkan oleh Penjajah Jepang, pada hari pertama mereka masuk Kota Mojokerto, bukan untuk rakyat, tetapi untuk kepentingan Penjajah Jepang sendiri. Hal ini terbukti pada esok harinya ada pengumuman, bahwa barang jarahan itu harus dikumpulkan di gudang-gudang dan markas tentara Jepang. Rupanya mereka sudah mulai mempersiapkan kebutuhan logistik, untuk digunakan sewaktu-waktu keadaan menjadi sangat sulit.
Akibat dari Penjajahan Jepang ini, rakyat semakin men-derita, persedian sandang dan pangan semakin tipis dan sangat langka, penganiayaan dan pemerkosaan oleh tentara Jepang terjadi dimana-mana. Mereka yang melawan akan dikenakan hukuman mati, yang ekse-kusinya dilaksanakan di alun-alun kota Mojokerto, dengan terlebih dahulu mengumpulkan masyarakat sebanyak-banyaknya untuk menyaksikan eksekusi tersebut. Eksekusi itu antara lain dilaksanakan terhadap 20 orang pembangkang, salah satunya adalah P. Mansur Solikhi. Beliau sudah diikat pada tiang eksekusi, tetapi atas pertolongan Alloh SWT, beliau selamat dari tembakan pasukan Jepang, dan dijebloskan kembali ke rumah tahanan. Maka lengkaplah penderitaan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang.
Perintah untuk melakukan penjarahan ini terus ber-langsung, banyak pula rakyat yang ditahan. Hal ini kemudian mengusik keberanian K.H. Ahyat Halimy. Beliau bersama P. Mansur Sholikhi, memanfaatkan situasi ini, bukan untuk menjarah barang atau bahan makanan, tetapi dengan melaksanakan gerakan untuk menjarah dan melucuti senjata pegawai pemerintah Hindia Blanda di Kantor Kawedanan. Setelah itu Mansur Solikhi beserta kawan-kawannya melakukan penggrebekan ke Pabrik Gula Gempol Kerep, sekali lagi untuk merampas senjata pegawai Pabrik. Gerakan Mansur Solikhi ini, dengan cepat menyebar ke Kawe-danan lain, dan segera diikuti oleh pemuda-pemuda Ansor. Mereka melakukan penggrebekan ke Pabrik Gula di Bangsal, Dinoyo, dan lain-lain. Tetapi malang tak dapat dielakkan, sehari setelah Gerakan ini P. Mansur Sholikhi tertangkap, dan ditahan oleh Jepang selama 1 tahun di rumah tahanan Perwotengah. K.H. Ahyat Halimy sendiri berhasil meloloskan diri dan pulang ke rumah.
Selama dalam tahanan ini P. Mansur Solikhi, sempat bertemu dengan K.H Hasyim Asy’ari yang juga di tahan di rumah tahanan Purwotengah, karena menolak tunduk pada Jepang.
Ditengah kesulitan dan kebencian seperti itu, sementara pasukan Sekutu mulai memenangkan peperangan di banyak Daerah, akhirnya Jepang yang membawa misi kemenangan dalam Perang Asia Timur Raya, mengajak pemuda-pemuda Indonesia, untuk mengikuti semacam pelatihan militer dan membuka luas gerakan bela negara, seperti Heiho, Peta dan lain-lain. Para pemuda, melalui arahan dari pemimpin Pergerakan Nasional, menerima ajakan ini, bukan untuk membela Jepang, tetapi untuk persiapan pembentukan Tentara Nasional, jika Indonesia merdeka pada suatu hari nanti.
bersambung..
catatan : H. Sugeng munir adalah anak angkat KH ahyad halimi, sekaligus kakak kandung ibu nyai H. Muslimah ( istri dari KH muthohharun afif )
Wallohu a'lam..

info pondok

assalamu'alaikum Abi Umi , semoga selalu di berkahi oleh ALLAH SWT. bicara mengenai pondok pesantren . tidak akan lepas dengan kata SANTRI. tanpa SANTRI, indonesia tak bisa Merdeka . dari PONDOK PESANTREN, di gerakkan oleh SANTRI , dan di tuntun oleh para ULAMA'.


 Langsung aja ya Abi Umi , niatnya mau promosi ,hehehe :) .
berikut info mengenai pondok pesantren. salah satunnya pondok yang familiar di kota MOJOKERTO , siapa lagi kalau bukan pondok pesantren "SABILUL MUTTAQIN"  sebutan orang-orang " pondok e Abah Yath" . Abah Yath merupakan salah satu ulama' indonesia. tidak ada satupun oarang yang nggak kenal dengan beliau . segala aktifitas baik di kota maupun kabupaten mojokerto, muslimatan dan lain-lain, di laksanakan di pondok pesantren sabilul muttaqin. Bagaimana dengan sistemnya ? ohh ya tentu insya'allah baik Abi Umi , buah hati Abi Umi akan mendapatkan ilmu UMUM, AGAMA, bahasa ARAB, bahasa INGGRIS, sehingga dapat di simpulkan DUNIA MUANTAP , AKHIRAT JUGA MUANTAP. nunggu apa lagi Abi Umi, segera daftarkan buah hati Abi dan Umi . info lebih lanjut kunjungi web : sabilul-muttaqin.com.