Sejarah dan kiprah KH AHYAD HALIMI
bagian III
Berjuang tanpa akhir
PERTEMPURAN DI PACET
Sebagai Komandan Kompi IV yang mempunyai tugas khusus mengawal Laskar Sabilillah yang terdiri dari para Ulama’ dan Tokoh-tokoh NU, K.H. Ahyat Halimy lebih banyak melakukan tugas koordinasi, dan untuk itu tidak jarang K.H. Ahyat Halimy masuk ke daerah pertempuran untuk menyampaikan pesan dan perintah dari Markas besar Hisbullah dan Sabilillah. Bahkan ketika terjadi penyergapan atas tentara BKR oleh sekutu di Pacet Mojokerto, K.H. Ahyat Halimy terlibat dalam pertempuran yang sengit.
Dalam pertempuran yang menelan banyak korban ini, salah satu diantaranya adalah Achmat Yatim. Beliau tertembak dalam pertempuran di Pacet, tetapi berhasil diselamatkan oleh rekan-rekannya, ketika sampai di Kutorejo, nyawanya tidak dapat diselamatkan lagi.
Pertempuran di Pacet ini merupakan pertempuran terbesar selama perang gerilya. Ketika tentara sekutu sudah menguasai Sepanjang dan Porong, hampir semua batalyon BKR berkumpul di Pacet. Mereka merencanakan menggiring pasukan Sekutu ke Mojosari dan Kutorejo. Di Kutorejo Sekutu akan diserang secara bersamaan oleh BKR dari arah Pacet, Dlanggu bangsal dan trawas. Tetapi rupanya konsentrasi pasukan BKR di Pacet ini tercium terlebih dahulu oleh pasukan Sekutu, dan mereka mulai menyerbu pasukan BKR, bukan dari arah Mojosari, tapi dari arah Trawas. Serangan mendadak ini membuat pasukan BKR tidak bisa memberikan perlawanan maksimal. Mereka bahkan tercerai berai dan mundur ke Wonosalam melalui Jatirejo.
Korban di pihak BKR mencapai ratusan orang.
Pasukan Hisbullah dan Sabilillah yang tercerai berai bersepakat untuk melakukan konsolidasi di Perak Jombang. Untuk konsolidasi inilah peran penting K.H. Ahyat Halimy sangat besar, yaitu selama satu bulan lebih beliau malang melintang ke Jombang, Somobito, Peterongan, Wonosalam dan Mojokerto untuk menggalang kembali kekuatan Hisbullah dan Sabilillah.
Pasukan Hisbullah dan Sabilillah yang tercerai berai bersepakat untuk melakukan konsolidasi di Perak Jombang. Untuk konsolidasi inilah peran penting K.H. Ahyat Halimy sangat besar, yaitu selama satu bulan lebih beliau malang melintang ke Jombang, Somobito, Peterongan, Wonosalam dan Mojokerto untuk menggalang kembali kekuatan Hisbullah dan Sabilillah.
Setiap kota yang sudah di duduki oleh Sekutu selalu diikuti oleh pembentukan pemerintahan dengan mengangkat Bupati dari mantan pejabat atau Pegawai Pemerintah Hindia Belanda, maka semakin jelaslah bahwa Belanda memang berkeinginan untuk merebut kembali kekuasaannya di Indonesia. Mereka juga segera menggunakan politik Devide et Impera, atau politik memecah belah bangsa Indonesia dengan mendirikan negara-negara kecil.
Setelah hampir semua Kota di Jawa Timur berhasil dikuasai, Belanda mendirikan NDT (Negara Jawa Timur). Dengan demikian maka Jawa Timur dikuasai oleh dua Pemerintahan, yaitu Propinsi Jawa Timur yang dipimpin oleh Gubernur RI di Surabaya dan Negara Jawa Timur yang dipimpin oleh Wali Negara Djawa Timoer. Menyikapi hal ini sekali lagi K.H. Ahyat Halimy mendapat tugas khusus untuk menghubungi dan mengundang para Ulama untuk berkumpul di Trowulan bersama tokoh-tokoh Republiken.
Pertemuan di Trowulan ini diselenggarakan pada bulan Desember 1949, selain dihadiri oleh Wakil-wakil Badan Sosial, Masyumi, GPII, Alim Ulama, juga dihadiri oleh lurah-lurah se kecamatan Trowulan dan lurah dari desa-desa sekitar Trowulan. Hasil pertemuan pada intinya Menolak serta tidak mengakui berdirinya Negara Djawa Timoer (NDT), karena mereka hanya menguasai sebagian wilayah Kota saja dan sama sekali tidak menguasai wilayah pedalaman.
MEMBENTUK STII - 1951
Untuk mengakhiri perang gerilya yang berkepanjangan, maka akhirnya dicapai kompromi di tingkat Nasional melalui konferensi Meja Bundar untuk membentuk Negara Republik Indonesia Serikat pada tahun 1950, dimana RI termasuk dalam bagian Negara Republik Indonesia Serikat yang dipimpin oleh Ir. Soekarno dan Bung Hatta.
Kompromi ini terpaksa harus diterima agar penderitaan Rakyat tidak berlarut-larut.
Salah satu langkah awal dari pemerintahan Republik Indonesia Serikat ini adalah pengamanan persedian kebutuhan bahan pokok, antara lain berupa beras. Pemerintah melakukan pembelian padi kepada rakyat secara besar-besaran. Dalam praktiknya, ternyata yang paling diuntungkan adalah para tengkulak, karena mereka memang memiliki modal yang cukup besar. Di Mojokerto, para tengkulak ini digerakkan oleh dua pabrik penggilingan padi yang cukup besar dan dikuasai oleh Cina, yaitu Pabrik Penggilingan Padi “Bintang” yang ada di Jl. Mojopahit dan di Sooko.
Salah satu langkah awal dari pemerintahan Republik Indonesia Serikat ini adalah pengamanan persedian kebutuhan bahan pokok, antara lain berupa beras. Pemerintah melakukan pembelian padi kepada rakyat secara besar-besaran. Dalam praktiknya, ternyata yang paling diuntungkan adalah para tengkulak, karena mereka memang memiliki modal yang cukup besar. Di Mojokerto, para tengkulak ini digerakkan oleh dua pabrik penggilingan padi yang cukup besar dan dikuasai oleh Cina, yaitu Pabrik Penggilingan Padi “Bintang” yang ada di Jl. Mojopahit dan di Sooko.
K.H. Ahyat Halimy melihat dengan nyata bahwa tata niaga pengadaan bahan pokok ini masih belum berpihak kepada petani kecil, oleh karenanya K.H. Ahyat Halimy dan H. Husain Abd. Ghani, kemudian memprakarsai didirikannya Sarikat Tani Islam Indonesia (STII) pada tahun 1951, yang secara nasional merupakan Organisasi yang berinduk pada Masyumi.
Dalam menjalankan STII ini, H. Husain Abd. Gani diserahi jabatan sebagai Ketua dan dibantu oleh kalangan pemuda dan pengusaha antara lain :
1. H. Mahfudz Barnawi
2. Thoyib Rusman
3. H. Karomain
4. Abd. Hamid
5. H. Abdullah Sumadi
6. H. Said Bangsal
2. Thoyib Rusman
3. H. Karomain
4. Abd. Hamid
5. H. Abdullah Sumadi
6. H. Said Bangsal
Setelah STII terbentuk K.H. Ahyat Halimy berusaha melakukan pendekatan kepada Bupati Mojokerto, dan alhamdulillah berhasil mendapatkan Izin untuk melakukan pembelian Padi kepada petani secara langsung. Setelah Izin ini keluar, maka dengan memanfaatkan Organisasi GP Ansor dan NU, STII melakukan pembelian Padi secara langsung kepada petani dengan modal pertama dari H. Husain Abd. Ghani serta para pengusaha.
Hasilnya selain petani mendapatkan harga yang lebih tinggi dibanding harga dari tengkulak, STII juga mendapatkan premi dari pemerintah. Setelah premi ini terkumpul selain dipergunakan untuk biaya operasional, K.H. Ahyat Halimy mengarahkan penggunaan dana itu pembelian gedung, di Jl. Poerwotengah (Sekarang Jalan Taman Siswa). Tanah dan bangunan tersebut digunakan untuk keperluan ummat Islam, dan berstatus wakaf, serta diberi nama “Balai Muslimin”.
Dalam perkembangannya, Balai Muslimin ini pernah digunakan sebagai tempat SMI (Sekolah Menengah Islam), SD Muhammadiyah, Pusat Latihan Pencak Silat “Tapak Suci”, Basic Training GP Ansor, IPNU, IPPNU, PMII, Pertemuan-pertemuan NU dan Muhammadiyah. Perkembangan berikutnya, karena ada program ummat Islam yang di Prakarsai oleh Bupati Mojokerto, Bapak. D. Fatchoerrahman untuk mendirikan Rumah Sakit Islam dengan menggalang dana langsung dari masyarakat Islam belum dapat direalisir, maka kegiatan untuk mendirikan Rumah Sakit Islam ini berhenti hanya sampai dengan pengadaan tanah di Desa Japan Kecamatan Sooko.
Dengan demikian di Mojokerto ada dua asset ummat Islam, yaitu Balai Muslimin dan Tanah yang dipersiapkan untuk membangu Rumah Sakit Islam. Kedua asset tersebut sama tidak dapat difungsikan secara maksimal karena dua ormas islam terbesar di Mojokerto yaitu NU dan Muhammadiyah belum menemukan kesepakatan dalam mengfungsikan kedua asset tersebut.
Kemudian atas inisiatif dan permintaan Bapak D. Fathurrohman, pada tahun 1993 diadakanlah pertemuan antara tokoh NU dan Muhammadiyah di Aula Condromowo, Desa Pekukuhan, Mojosari. Pertemuan tersebut antara lain dihadiri oleh Bpk. Hamzah, suyono, fathurrohman, H. Siroj, H. Mahfudz Barnawi dan Masud Yunus.
Pada akhirnya musyawarah tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa : “ Balai Muslimin ” ditetapkan sebagai Badan Waqfiyah dan pengelolaannya diserahkan kepada Muhammadiyah, sedangkan tanah di desa Japan, Kecamatan Sooko diserahkan pada RSI Sakinah dan dikelola oleh NU, dengan harapan dapat dimanfaatkan bagi pengembangan RSI Sakinah.
Karena lokasi tanah terpisah dengan RSI Sakinah, maka dilakukan pengukuran dengan tanah milik NU yang berada disebelah selatan RSI Sakinah dengan luas yang sama agar dapat dipergunakan untuk pengembangan RSI Sakinah, dan untuk tanah Eks RSI sekarang sudah dibangun Kantor NU ( SEKARANG PCNU KABUPATEN DEPAN PONDOK AL AMIN ).
MELAWAN G.30.S PKI
Pemberontakan G.30.S PKI yang dimulai dengan pembunuhan secara biadab pada Jendral A. Yani dan 6 orang petinggi ABRI lainnya menimbulkan kemarahan yang luar biasa dari kebanyakan bangsa Indonesia. Tuntutan untuk membubarkan PKI oleh gerakan Mahasiswa di Jakarta belum menunjukkan hasilnya. Tuntutan itu kemudian menggema ke bawah, banyak Daerah mulai bereaksi dengan mengadakan demo untuk menuntut dibubarkannya PKI dan organisasi pendukungnya.
Di Mojokerto juga mulai ada inisiatif untuk mengadakan atau membentuk sebuah gerakan. Ormas-ormas Islam berkumpul di Masjid Al Fatah, berencana untuk menutup Kantor CC PKI dan ormas-ormasnya. Berita ini rupanya sangat cepat menyebar sehingga yang datang di Masjid Jami’ bukan hanya pimpinan ormas, akan tetapi juga kebanyakan dengan para anggotanya.
Hingga menjelang tengah malam seribu orang lebih telah berkumpul di Masjid jami'. Mereka sudah berniat untuk langsung bergerak dan menutup Kantor CC PKI, tetapi tidak ada satupun tokoh yang hadir berani memberi komando karena mereka belum tahu persis posisi Batalyon 516 yang bermarkas di utara alun - alun Mojokerto ( Sekarang Markas Korem ). Didepan Markas Batalyon 16, tidak seperti biasanya, saat itu dijaga oleh sekitar 20 orang dan bersenjata lengkap.
Rupanya ada beberapa pengurus NU Cabang Mojokerto yang menghubungi K.H. Ahyat Halimy, dan memberi laporan tentang keadaan di Masjid Jami’. Beliaupun segera berangkat dengan mengendarai sepeda motor BSA butut. Begitu memasuki Masjid K.H. Ahyat Halimy memberikan pidato sebentar untuk memberi pengarahan kepada seluruh yang hadir saat itu, isinya
“ Jangan ada pengerusakan. Ambil saja dokumen-dokumen penting, kemudian tutup dan segel Kantornya !, jangan juga ada yang mengambil barang untuk kepentingan pribadi, itu maling namanya. Mari kita berjuang iklhlas karena Alloh Ta’ala. Allohu Akbar !, Allohu Akbar !, Allohu Akbar !”
K.H. Ahyat Halimy sendiri tidak mengikuti rombongan tengah malam ini karena tugas beliau hanya untuk mengarahkan dan memberi pemahaman agar tidak anarkis, setelah memberi komando beliau mengambil motor dan pulang ke rumah. Diluar orang2 sudah siap dan mereka bergerombol berangkat lewat Jl. Mojopahit, kemudian masuk Jl. Kartini, menuju perempatan Prapanca menuju Kantor CC PKI sambil meneriakkan Takbir. Banyak diantara mereka yang membawa golok untuk berjaga jaga bila ada perlawanan.
Sesampainya di Kantor CC PKI tanpa ada satu perlawanan, mereka mendobrak pintu Kantor kemudian memeriksa dan mengambil beberapa dokumen2 penting. Setelah itu mereka keluar menutup kembali pintu kantor dan menyegelnya dengan kayu yang dipasang melintang. Kemudian dilanjutkan menuju ke Jl. Pemuda yaitu pusat kegiatan PKI di SMP udayana. Tanpa ada perintah tiba tiba beberapa orang mulai melempari Kantor CC PKI, sebagian lagi merangsek masuk mendobrak pintu yang baru disegel kemudian mengeluarkan peralatan kantor antara lain : lemari, Mesin Ketik, Telepon dan beberapa berkas yang masih tersisa. Lalu menumpuknya di Jl. Brawijaya kemudian membakarnya.
Massa mulai bergerak ke Jl. Pemuda dengan memekikkan takbir. Tidak ada satupun penduduk yang berani keluar, bahkan untuk sekedar membuka jendela. Malam semakin mencekam, Sesampai di jl. Pemuda dan memasuki halaman SMP Udayana, aksi serupa seperti di perempatan Prapanca terulang lagi, setelah beberapa dokumen diamankan, semua perabot didalam kantor dikeluarkan dan dibakar.
Kemudian massa bergerak ke Panggreman menuju ke sebuah rumah didekat lapangan sepakbola. Rumah ini biasa digunakan untuk latihan “Genjer-genjer”. Genjer-genjer ini sebenarnya adalah sebuah judul lagu yang biasa dinyanyikan oleh orang-orang PKI, tetapi kemudian berkembang menjadi sebutan untuk sebuah pentas sejenis Ludruk yang biasa dipergunakan oleh PKI media komunikasi dan provokasi.
Di Panggreman ini sempat terjadi ketegangan sebentar, karena ada sedikit perlawanan dari pihak orang2 PKI, akan tetapi begitu melihat rombongan massa yang sangat besar sebagian dari mereka lari kearah barat dan sebagian lagi masih berusaha memberikan perlawanan. Beberapa orang mengejar sebagian yang lari tetapi kehilangan jejak setelah sampai di Kali Cemporat. Karena massa sudah mulai panas dan masih ada sedikit perlawanan, massa pun menjadi semakin tidak terkendali. Mereka menyerbu masuk rumah serta mengobrak abrik Gamelan kemudian massa juga membakar rumah tersebut. Sampai matahari terbit masih ada sisa-sisa api yang membakar rumah itu, sementara sebagian massa sudah kembali ke rumahnya masing-masing.
Sekitar kurang lebih seratus orang pemuda tidak pulang, akan tetapi langsung ke Surau Jl. Miji 36, membersihkan diri lalu sebagian tidur dan sebagian yang lain menunggu adzan subuh tiba. Adzan subuh berkumandang semua pemuda mengambil air wudhu dan mengikuti jama'ah subuh. Usai sholat subuh, K.H. Ahyat Halimy mendapat laporan Kejadian tadi malam, beliau langsung duko ( marah-marah ), dan berkata " sudah saya peringatkan jangan ada perusakan, ini malah membakar rumah. Mana pimpinan Ansor ? bisa ndak mengendalikan anggotanya ?
Semuanya terdiam. Beruntung Kiyai Muhaimin sudah datang dan beliau masuk ke surau, bersiap siap memulai kuliah subuh.
Semuanya terdiam. Beruntung Kiyai Muhaimin sudah datang dan beliau masuk ke surau, bersiap siap memulai kuliah subuh.
K.H. Ahyat Halimy pun segera masuk ke surau dan ikut memberikan kuliah subuh.
Dokumen-dokumen yang berhasil diambil dari Kantor CC PKI itu setelah diteliti lebih lanjut, selain berisi daftar anggota dan pengurus PKI dan organisasi pendukungnya, juga ditemukan daftar nama tokoh-tokoh agama yang dianggap musuh PKI dan harus dilenyapkan. Dokumen yang terakhir yang berisi daftar nama tokoh agama ini sangat mengejutkan banyak pihak dan menjadi bahan pembicaraan yang paling sering di bicarakan sekaligus meningkatkan semangat warga untuk menumpas habis orang-orang PKI.
Dokumen-dokumen yang berhasil diambil dari Kantor CC PKI itu setelah diteliti lebih lanjut, selain berisi daftar anggota dan pengurus PKI dan organisasi pendukungnya, juga ditemukan daftar nama tokoh-tokoh agama yang dianggap musuh PKI dan harus dilenyapkan. Dokumen yang terakhir yang berisi daftar nama tokoh agama ini sangat mengejutkan banyak pihak dan menjadi bahan pembicaraan yang paling sering di bicarakan sekaligus meningkatkan semangat warga untuk menumpas habis orang-orang PKI.
Beberapa hari setelah perusakan kantor CC PKI, warga kota Mojokerto dikagetkan oleh ditemukannya sesosok mayat di Jl. Mojopahit, tepatnya di sebelah utara jalan menuju pekuburan Kelurahan Suratan. Mayat itu tergeletak ditengah rel kereta api, dengan luka menganga di lehernya. Mayat itu dipastikan dibunuh ditempat lain kemudian dibuang disana. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya bekas jejak darah dari pergerakan kaki atau tangan dari mayat, dan darah yang tergenang di bawah luka leher.
Mayat tersebut ditemukan oleh warga sekitar jam 8 malam, dan baru tengah malam diangkut oleh pihak kepolisian pada tengah malam. Kejadian ini terindikasi adalah sebuah provokasi dari orang2 PKI, sebab setelah itu beredar kabar bahwa yang meninggal itu adalah tokoh PKI keturunan Cina asal Jombang. Setelah kejadian penemuan mayat itu, warga kota Mojokerto setiap malam menjadi sangat waspada sekaligus menjadikan kota bertambah mencekam.
Berita akan adanya pembalasan dari pihak PKI terus berkembang dari mulut ke mulut. Surau di Jl. Miji 36 kembali menjadi tempat berkumpulnya para pemuda, khususnya Pengurus GP Ansor. Selain untuk menjaga keamanan K.H. Ahyat Halimy, mereka juga saling bertukar informasi, menganalisis keadaan, juga merencanakan macam-macam kegiatan pengamanan dan perlawanan terhadap PKI.
K.H. Ahyat Halimy dalam setiap kesempatan selalu menekankan kepada pemuda-pemuda yang berkumpul di Surau Jl. Miji 36 untuk selalu waspada dan siaga serta melarang untuk bertindak sendirian. Surau Jl. Miji 36 ini sudah menjadi Pos Komando untuk kegiatan penumpasan G.30.S PKI. Selain kumpulan para pemuda juga ada 3 atau 4 orang dari pihak berwajib, baik itu TNI AD maupun Kepolisian.
Gerakan untuk menangkap gembong-gembong PKI, selalu dimulai dari “Pos Komando” ini. Mereka yang tertangkap kemudian dimasukkan ke penjara di Jl. Taman Siswa. Beberapa hari setelah gerakan penangkapan gembong-gembong PKI ini, muncul provokasi kedua yaitu adanya mayat yang terapung di sungai Brantas. Awalnya hanya dua atau tiga mayat yang terapung, dan tidak ada seorangpun yang berani untuk mengangkat dan memakamkan mayat-mayat tersebut. Masyarakat berkeyakinan bahwa mayat-mayat itu adalah tokoh PKI yang dieksekusi secara sepihak serta tidak melalui proses peradilan.
Beberapa minggu kemudian jumlah mayat yang terapung di sungai Brantas semakin banyak, biasanya mulai muncul di sungai Brantas pada sekitar jam tiga atau empat sore, dan kondisi mayat nya juga masih belum rusak. K.H. Ahyat Halimy tak henti-hentinya mengingatkan kepada pemuda-pemuda Ansor, untuk mengendalikan emosi serta tidak grusa grusu, dan selalu bekerja sama dengan pihak ABRI dalam melakukan gerakan penumpasan G. 30. S PKI.
K.H. Ahyat Halimy juga menangkap sinyal yang “kurang baik” melihat jumlah mayat yang terus muncul di sungai Brantas. K.H. Ahyat Halimy sangat khawatir terjadi salah sasaran atau dimanfaatkan oleh orang untuk melampiaskan dendam pribadi. Berkali-kali beliau mengingatkan pada pemuda ansor serta warga akan dosa yang akan dipikul apabila hal itu terjadi.
Berita yang tersiar dari mulut ke mulut, ternyata adalah adanya “kiriman” gembong PKI dari Surabaya, Sidoarjo dan Gresik untuk dieksekusi di Mojokerto. K.H. Ahyat Halimy adalah tokoh yang dikenal sangat tegas dalam menerapkan hukum Islam sekaligus ulama’ yang selalu dapat menerima kenyataan. Artinya apabila terjadi sesuatu yang kurang atau tidak sesuai dengan syari’at, kemudian sudah diusahakan sedapat mungkin untuk dihindari dan dicegah tetapi tidak bisa, maka K.H. Ahyat Halimy seringkali dapat menerima kenyataan itu dengan senantiasa mengajak dan memperbanyak istighfar.
Begitu pula halnya yang dilakukan dalam melihat kenyataan kegiatan penumpasan G.30.S PKI ini, beliau sangat setuju gerakan penumpasan G.30.S PKI, tetapi jelas nampak kurang berkenan dengan cara-cara yang dipakai dalam melakukan gerakan itu, yaitu dengan menyiksa atau membunuh secara sepihak tanpa terlebih dahulu bekerja sama dengan ABRI.
bersambung.. ( Selanjutnya Bagian IV : MENDIRIKAN PESANTREN )
Wallohu a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar