Selasa, 26 Maret 2019

The Miracle of kh. Ahyat Halimy

Sejarah dan kiprah masa remaja KH. Ahyad halimi
Bagian I
Bersumber dari H. Sugeng munir :
" Sebagai santri beliau, PENTING kita membaca sepenggal sejarah almagfurlah "
BERJUANG TANPA AKHIR
Mendirikan GP Ansor
K.H. Ahyat Halimy ketika baru pulang dari belajar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, usianya masih sangat muda, yaitu 20 tahun, tetapi karena perangainya yang sangat santun, dan hormat pada Ulama’, maka beliau sudah dipercaya untuk menjabat Sekretaris Tanfidziyah NU yang diketuai oleh K.H. Dimyati dari Kauman, dan Rois Syuriyah-nya K.H. Zainal Alim dari Suronatan.
Ditengah-tengah kesibukannya sebagai sekretaris Tanfidziyah NU, K.H Ahyat Halimy beserta teman-temannya, pada tahun 1938 mendirikan Ansoru Nah-dlatul Ulama (ANO) atau GP Ansor. Motor dari gerakan ini adalah Pak Munasir dari Mojosari, P. Soleh Rusman dari Kradenan, beserta dua belas pemuda lainnya. Fungsi utama ANO waktu itu adalah membantu seluruh kegiatan dan program Nahdlatul Ulama.
Tahun 1940 s/d 1942, selain masih menjabat sebagai Sekretaris Tanfidziyah NU, K.H. Ahyat Halimy juga dipercaya menjabat Ketua GP Ansor. Pada masa kepe-mimpinan Beliau, K.H Ahyat Halimy membentuk tenaga penggerak di setiap Kawedanan, sebagai berikut :
1. Kawedanan Mojosari, diserahkan pada P. Munasir, P. Munadi dan P. Mustaqim.
2. Kawedanan Mojokasri diserahkan pada P. Mansur Solikhi dan Sdr. Imam Muhtadi.
3. Kawedanan Jabung diserahkan pada P. Shofwan dan P. Abd. Hamid.
4. Kawedanan Mojokerto, diserahkan pada K.H. Ahyat Halimy sendiri, K.H. Samsoemadyan, P. H. Bilal, dan P. H. Rifa’i.
Pada periode ini, kegiatan G.P. Ansor tidak hanya sekedar membantu kegiatan dan program NU, tetapi sudah memiliki kegiatan kepemudaan yang lain, seperti baris berbaris, kepanduan, bela diri dan lain-lain.
Disamping itu, hampir setiap malam mereka selalu berkumpul di Surau Jl. Miji 36 untuk sekedar ngomong-ngomong dan berdiskusi tentang berbagai hal. Mereka bahkan sudah memiliki satu pasukan berseragam, terompet sangkakala, dan beberapa perangkat kegiatan “kepanduan” ( seperti Pramuka jaman sekarang).
Tahun 1943, ketika tentara Jepang mulai memasuki Mojokerto, dan terjadi penjarahan besar-besaran ter-hadap semua toko dan gudang bahan makanan dan barang penting lain yang dikuasai Cina dan Belanda, aktivitas GP Ansor sempat terhenti, meskipun sebenar-nya mereka semua masih sangat kompak, bersatu padu dalam satu tekad “ Li I’laai kalimatillah “.
Penjarahan itu ternyata memang diperintahkan oleh Penjajah Jepang, pada hari pertama mereka masuk Kota Mojokerto, bukan untuk rakyat, tetapi untuk kepentingan Penjajah Jepang sendiri. Hal ini terbukti pada esok harinya ada pengumuman, bahwa barang jarahan itu harus dikumpulkan di gudang-gudang dan markas tentara Jepang. Rupanya mereka sudah mulai mempersiapkan kebutuhan logistik, untuk digunakan sewaktu-waktu keadaan menjadi sangat sulit.
Akibat dari Penjajahan Jepang ini, rakyat semakin men-derita, persedian sandang dan pangan semakin tipis dan sangat langka, penganiayaan dan pemerkosaan oleh tentara Jepang terjadi dimana-mana. Mereka yang melawan akan dikenakan hukuman mati, yang ekse-kusinya dilaksanakan di alun-alun kota Mojokerto, dengan terlebih dahulu mengumpulkan masyarakat sebanyak-banyaknya untuk menyaksikan eksekusi tersebut. Eksekusi itu antara lain dilaksanakan terhadap 20 orang pembangkang, salah satunya adalah P. Mansur Solikhi. Beliau sudah diikat pada tiang eksekusi, tetapi atas pertolongan Alloh SWT, beliau selamat dari tembakan pasukan Jepang, dan dijebloskan kembali ke rumah tahanan. Maka lengkaplah penderitaan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang.
Perintah untuk melakukan penjarahan ini terus ber-langsung, banyak pula rakyat yang ditahan. Hal ini kemudian mengusik keberanian K.H. Ahyat Halimy. Beliau bersama P. Mansur Sholikhi, memanfaatkan situasi ini, bukan untuk menjarah barang atau bahan makanan, tetapi dengan melaksanakan gerakan untuk menjarah dan melucuti senjata pegawai pemerintah Hindia Blanda di Kantor Kawedanan. Setelah itu Mansur Solikhi beserta kawan-kawannya melakukan penggrebekan ke Pabrik Gula Gempol Kerep, sekali lagi untuk merampas senjata pegawai Pabrik. Gerakan Mansur Solikhi ini, dengan cepat menyebar ke Kawe-danan lain, dan segera diikuti oleh pemuda-pemuda Ansor. Mereka melakukan penggrebekan ke Pabrik Gula di Bangsal, Dinoyo, dan lain-lain. Tetapi malang tak dapat dielakkan, sehari setelah Gerakan ini P. Mansur Sholikhi tertangkap, dan ditahan oleh Jepang selama 1 tahun di rumah tahanan Perwotengah. K.H. Ahyat Halimy sendiri berhasil meloloskan diri dan pulang ke rumah.
Selama dalam tahanan ini P. Mansur Solikhi, sempat bertemu dengan K.H Hasyim Asy’ari yang juga di tahan di rumah tahanan Purwotengah, karena menolak tunduk pada Jepang.
Ditengah kesulitan dan kebencian seperti itu, sementara pasukan Sekutu mulai memenangkan peperangan di banyak Daerah, akhirnya Jepang yang membawa misi kemenangan dalam Perang Asia Timur Raya, mengajak pemuda-pemuda Indonesia, untuk mengikuti semacam pelatihan militer dan membuka luas gerakan bela negara, seperti Heiho, Peta dan lain-lain. Para pemuda, melalui arahan dari pemimpin Pergerakan Nasional, menerima ajakan ini, bukan untuk membela Jepang, tetapi untuk persiapan pembentukan Tentara Nasional, jika Indonesia merdeka pada suatu hari nanti.
bersambung..
catatan : H. Sugeng munir adalah anak angkat KH ahyad halimi, sekaligus kakak kandung ibu nyai H. Muslimah ( istri dari KH muthohharun afif )
Wallohu a'lam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar