Selasa, 26 Maret 2019

The Miracle Of KH. Ahyat Halimy

Sejarah dan kiprah KH. Ahyad halimi
Bagian II
Berjuang tanpa akhir
MEMBENTUK HISBULLAH
Melihat realitas kepedihan rakyat di masa pendudukan Jepang, serta mulai dibukanya gerakan militer oleh tentara Jepang, maka atas prakarsa beberapa Ulama di Jawa Barat, dan pendekatan yang dilakukan oleh K.H. Wahid Hasyim, selaku Ketua Masyumi, penjajah Jepang mengizinkan diadakannya latihan militer di Jibarosa Bogor.
Setelah bermusyawarah dengan P. Mansur Sholikhi dan P. Munasir, disepakti GP Ansor Mojokerto mengirimkan 3 kadernya untuk mengikuti latihan di Jibarosa, mereka yang diutus itu adalah
1. Sdr. Suhud (Alm. K.H. Suhud, Kemlagi)
2. Sdr. Ahmad Yatim, yang gugur dalam pertempuran di Pacet
3. Sdr. Mulyadi
Selesai mengikuti latihan di Jibarosa, tiga kader GP Ansor tersebut diajak oleh K.H. Ahyat Halimy, untuk membentuk Pasukan Hisbullah di Mojokerto. Dari hasil pertemuan yang diawali dengan “rujakan” itu, terbentuk Pengurus Hizbullah, yang terdiri dari :
Ketua : Mansur Solikhi
Wakil Ketua : Munasir
Sekretaris : Samsoemadyan
Pembantu Umum : Ahyat Halimy
Anggota : Ahmad Khotib, Akhmad Efendi, Sholeh Yasin, Hudan, Muridan dan Mahfud.
Seluruh anggota GP Ansor digerakkan untuk masuk ke Laskar Hisbullah, sehingga dalam waktu tidak lebih dari satu bulan, Hisbullah Mojokerto berhasil membentuk 2 batalyon.
Batalyon pertama di pimpin oleh Mansur Sholikhi, dan Batalyon kedua di pimpin oleh Munasir.
K.H. Ahyat Halimy diangkat sebagai Komandan Kompi IV, di bawah Batalyon Munasir. Kompi IV ini mempunyai tugas khusus untuk mengawal para Ulama' yang tergabung dalam Laskar Sabilillah.
Seluruh persenjataan dan perlengkapan militer dari Laskar Hisbullah ini, diambil dari pasukan atau pegawai Hindia Belanda yang sudah ditundukkan oleh tentara Jepang, dan persenjataan2 tentara Jepang setelah mereka menyerah pada Sekutu.
PERANG GERILYA
Seperti malam2 sebelumnya pada waktu itu Ahyat muda, Munasir dan Samsoemadyan, sedang bercengkerama di Surau. Sambil menunggu kedatangan teman yang lain, mereka makan “tahu solet”. Tiba-tiba Mansur Solikhi datang dengan nafas yang terengah-engah, matanya berbinar. Setelah mengucap salam, Mansur segera berkata ; “ Saya baru saja mendengar Radio, tadi pagi Bung Karno dan Bung Hatta, memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Sekarang kita sudah punya Negara sendiri. Negara yang dipimpin dan dijalankan oleh bangsa kita sendiri. Allohu akbar ! Allohu Akbar ! .“ katanya berapi-api , Benarkah itu ?.” tanya Ahyat.
“Saya mendengarkan dua kali, yaitu siaran setelah maghrib, dan siaran setelah Isya’ “ kata Mansur Solikhi meyakinkan teman-temannya. Tanpa dikomando mereka berempat serentak mengumandangkan takbir, sambil berjingkrak-jingkrak. Kemudian Ahyat mengajak teman-temannya untuk sujud syukur di surau. Berita ini segera disebarkan ke masyarakat, khususnya teman-teman Ansor di Kota Mojokerto.
Keesokan harinya, entah atas perintah siapa, masyarakat berbondong-bondong ke alun-alun kota. Beberapa diantara mereka ada yang mengumandangkan Takbir dengan semangat. Tak lama kemudian sudah berkumpul sekitar +- 1000 orang, mereka rata-rata hanya berbisik-bisik memastikan kabar Proklamasi. Maklum, mereka sebenarnya agak takut, karena di sebelah utara dan selatan alun-alun mojokerto adalah Markas Kompetai ( kempeitai / kenpeitai nama satuan polisi militer jepang ), yang dijaga oleh tentara Jepang dengan senjata laras panjang.
Akan tetapi tidak seperti biasanya, meski ada kerumunan banyak orang, mereka tentara Jepang itu hanya berdiri mematung. Tak lama kemudian tampak ada seorang pemuda melambaikan tangan dari Markas Kompetai, sambil menenteng senjata. Beberapa orang pemuda yg lain berlarian masuk markas, kemudian keluar sambil membawa senjata. Rupanya mereka sedang melucuti senjata tentara2 Jepang.
Diantara para pemuda tersebut tampak Mansur Solikhi dari Hisbullah yang juga sudah membawa senjata laras panjang. Mansur kemudian menyuruh teman-teman Hisbullah untuk mengambil senjata, terutama karena tentara Jepang sama sekali tidak memberikan perlawanan apapun, mereka hanya menolak kalau senjata yang mereka bawa diambil.
Malam harinya, pengurus Hizbullah Mojokerto rapat di surau Jl. Miji 36. K.H. Ahyat Halimy mengusulkan agar semua senjata yang diambil oleh anggota Hisbullah, dikumpulkan di suatu tempat, dan hanya akan diambil dan dipergunakan pada situasi yang tepat, atas perintah Ketua Hisbullah. Usul ini disepakati, demi keselamatan para anggota Hizbullah sendiri serta menjaga kemungkinan penyalahgunaan senjata.
Hari-hari berikutnya merupakan “hari pesta” bagi rakyat Indonesia, termasuk masyarakat Mojokerto, setiap kali berpapasan dengan teman, dimanapun mereka berada selalu meneriakkan salam “Merdeka !”. Tapi kegembiraan ini juga sedikit terusik oleh adanya berita bahwa tentara Sekutu akan masuk dan menyerang Indonesia, sehingga masyarakat selain gembira tapi juga waspada dengan mulai bersiap-siap melakukan perlawanan pada Sekutu karena adanya berita tersebut.
Menyikapi situasi seperti ini K.H. Ahyat Halimy meminta kepada teman-teman Hizbullah untuk melakukan koordinasi dengan Bapak Husaini Tiway Ketua GP Ansor Surabaya, yang juga sudah membentuk dan menata Laskar Hizbullah di Surabaya. Mereka bahkan sudah membagi wilayah dan tugas untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya, termasuk Mojokerto, Gresik, Sidoarjo dan Pasuruan.
Berita itu benar dengan adanya bukti di akhir bulan September, beberapa orang yang mengaku sebagai perwakilan tentara sekutu mulai masuk Surabaya. Mereka kebanyakan adalah tentara Comenwealt Inggris ( Commonwealth atau Persemakmuran adalah perhimpunan 53 negara, kebanyakan bekas koloni Inggris, termasuk Australia, Kanada dan India. ) yang berada di Australia, dan beberapa orang Belanda yang berhasil melarikan diri ke Australia ketika Jepang masuk ke Indonesia.
Di Surabaya mereka menempati Hotel Orange di Jl. Tunjungan. Tiba-tiba saja pada tanggal 19 September 1945, mereka mengibarkan bendera Merah Putih Biru di puncak menara hotel. Hal ini menimbulkan reaksi keras dari arek-arek Suroboyo. Mereka secara spontan berduyun-duyun ke Hotel Orange, dan diantara mereka kemudian ada yang mulai memanjat menara Hotel, kemudian merobek warna biru pada bendera yang berkibar, sehingga yang tersisa adalah warna bendera merah putih.
Tanggal 25 september 1945, tentara Sekutu benar-benar sudah mendarat di Jakarta, mereka terdiri dari tentara Inggris, Gurgha (orang India yang menjadi tentara Inggris), dan ikut pula tentara Belanda. Misi mereka yang sebenarnya adalah untuk melucuti senjata tentara Jepang dan menjadikan mereka sebagai tawanan perang, serta membebaskan tawanan Jepang, khususnya orang-orang Belanda, atau para Pegawai Pemerintah Kolonial Belanda yang ditawan Jepang.
Tetapi dibalik misi resmi itu, rupanya ada agenda khusus dari tentara Belanda, yaitu mengembalikan kekuasan Hindia Belanda. Agenda ini ternyata memang di dukung oleh Inggris, sehingga setiap tentara sekutu datang, kemudian melakukan perundingan dengan “Tentara Indonesia”, selalu berakhir dengan perang. Karena rupanya sekutu enggan mengakui kemerdekaan Indonesia.
Setelah Insiden 19 September, Tentara BKR (Badan Keamanan Rakyat), terutama Hizbullah, mulai mempersiapkan diri. Tanggal 20 Oktober tentara sekutu mulai merapat di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dipimpin oleh Jendral AWS Mallaby. Awalnya Arek Suroboyo menolak masuknya tentara Sekutu ini, tetapi setelah dilakukan perundingan, mereka mene-rima dengan beberapa syarat. Tanggal 26 Oktober tentara sekutu mulai mendarat secara besar-besaran, dengan dilengkapi senjata berat. Tentara Belanda dan Gurgha, masuk terlalu jauh ke daratan Surabaya, sehingga menyalahi perjanjian awal yang sudah disepakti dengan Jendral AWS Malaby.
Untuk menyelesaikan masalah ini diadakan perundingan kembali di Hotel Internatio, tetapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba muncul kegaduhan, dan seorang tentara sekutu melepaskan tembakan ke arah keruman massa di depan Hotel Internatio. Kegaduhan itu dicoba untuk dilerai, ketika keadaan sudah mulai mereda tiba-tiba muncul suara tembakan, entah dari mana, maka baku tembak-pun mulai terjadi. Entah yang benar mana, insiden Hotel Internatio, menurut sebgaian sumber telah menewas-kan Jendral AWS Mallaby. Sebagian menceritakan bahwa Jendral Malaby tidak tewas, tetapi diculik arek-arek Suroboyo. Yang jelas sejak insiden tersebut Jendral AWS Malaby tak diketahui keberadaannya.
Pertempuran besar sudah diambang pintu, karena perundingan mengalami jalan buntu. Laskar Rakyat sudah mulai bersiap menghadang pendaratan sekutu, perlawanan sudah mulai diteriakkan.
Dari Mojokerto sendiri sudah ada satu kompi laskar rakyat yang berangkat ke Surabaya. Dari Tebuireng, K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa yang berisi tentang revolusi jihad berupa :
Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, wajib dipertahankan ;
Republik Indonesia adalah satu-satunya pemerintahan yang sah diseluruh bekas wilayah Hindia Belanda, wajib dibela dan dipertahankan, meskipun meminta pengorbanan harta dan nyawa ;
Musuh Indonesia terutama adalah Belanda yang membonceng tugas-tugas sekutu yang diwakili Inggris ;
Ummat Islam, terutama warga Nahdlatul Ulama wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawan yang hendak kembali menjajah Indonesia. Melawan Penjajah adalah Jihad fi Sabilillah, membela agama Alloh, karena itu bersifat perseorangan atau fardlu ‘ain.
Tanggal 10 Nopember 1945, sekutu memaksa untuk mendaratkan pasukannya, maka pertempuran pun tak terhindarkan. Seluruh Pasukan Hisbullah, dan laskar-laskar rakyat yang ada di Mojokerto berangkat ke Surabaya, menghadang masuknya kembali penjajah Belanda. Dengan berbekal senjata seadanya, dan kendaraan seadanya mereka berbondong-bondong ke Surabaya, memasuki kancah peperangan dengan modal tekat Jihad fi Sabilillah.
Gambar mungkin berisi: 1 orang, teks
Sementara itu penduduk Surabaya yang sudah manula, atau masih balita dan kaum Ibu, diungsikan keluar dari Surabaya, menuju daerah sekitar di Mojokerto, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Lamongan dan Jombang. Surabaya telah menjadi medan pertempuran. Meskipun laskar rakyat kalah dalam persenjataan, namun tidak mudah bagi Sekutu untuk menguasai Surabaya, karena selain memberikan perlawanan langsung dengan senjata seadanya, arek-arek Suroboyo juga melaksana-kan “gerilya” kota. Laskar Rakyat yang tidak memiliki senjata api, mulai keluar kota, mereka bertahan di Sepanjang, Waru, Porong dan Gresik.
Karena Sekutu sudah mulai menguasai wilayah perkotaan, maka daerah-daerah pinggiran mulai dihujani mortir, dan serangan udara. Mojokerto akhirnya mulai digunakan sebagai Pos Komando Laskar Hisbulloh. Markas Kompetai di selatan alun-alun, dijadikan Markas Hisbulloh, sedang Pos Kompetai yang berada di Timur Alun-alun digunakan sebagai Markas Sabilillah.
Dalam sebuah serangan di Sepanjang, tepatnya di desa Klopo Sepuluh, K.H. Nawawi dari Laskar Sabilillah gugur sebagai syuhada’. Jenazahnya Beliau di bawa ke Mojokerto dan dimakamkan di Pemakaman Losari. Gugur nya K.H. Nawawi ini bukan menyurutkan nyali para pejuang, melainkan menambah kebencian dan sangat untuk bertempur melawan Belanda dan menyulut semangat jihad para pejuang kemerdekaan pada saat itu.
Bersambung..
Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar